“Tidak tahu yang dikatakan, itu kesan saya. Ketika seorang publik figur beropini, bahwa rumah ibadah yang dibangun megah itu demi persaingan pemasaran untuk menarik minat umat.” – Mas Redjo
…
Apa dasarnya, sehingga beliau yang dikenal cerdik pandai mengatakan hal senaif itu?
Saya tidak membutuhkan dasar dia beropini, tapi lebih bijak berefleksi diri, tanpa harus nyinyir, saling menyakiti, dan menghakimi orang lain. Kita dituntut untuk makin bijaksana dan rendah hati.
Saya beriman itu tidak didasari oleh karena rumah ibadah yang megah dan keren, tapi muncul dari kesadaran hati dan itu anugerah Tuhan.
Hati sebagai tahta Tuhan. Saya beribadah itu membuka hati untuk membangun intimasi dengan-Nya. Tanpa sekat, tendensi, dan tanpa prasangka. Tujuannya agar kita makin dekat dan akrab dengan Sang Pencipta serta mengasihi sesama.
Saya membangun iman itu dari motivasi yang murni. Hidup untuk melayani dan mengabdi Tuhan.
Bagi saya pribadi, beriman itu tidak membuat saya lebih baik, benar, atau lebih hebat dibandingkan umat yang lain. Tapi beriman yang baik itu dibangun atas dasar toleransi untuk saling menghargai dan menghormati sebagai sesama hamba Tuhan.
Saya juga tidak menanggapi dan komentar, jika orang beranggapan, bahwa lebih baik mendahulukan membangun iman dan akhlak umat, ketimbang rumah ibadah nan megah.
Bagi saya pribadi, lebih bijak itu, jika prioritas yang pertama dan utama adalah kita membangun akhlak dan iman keluarga agar makin peduli, mengasihi, dan menyayangi satu dengan yang lain. Keluarga adalah cerminan rumah ibadah nan kecil yang harmoni. Sekaligus sebagai fondasi bangunan rumah ibadah yang sejati.
Kendalikan pikiran dan mulut ini agar kita makin bijaksana dan rendah hati.
Makin beriman, kita kian mengasihi sesama.
…
Mas Redjo

