Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hanya orang-orang yang sungguh terbuka hatinya yang sanggup membukakan tangan-tangannya.”
(Didaktika Hidup Ikhlas)
…
Manusia adalah makhluk individual (personal), sekaligus juga sebagai makhluk sosial.
Manusia adalah ciptaan Tuhan yang superunik. Karena di dalam diri seorang manusia, terdapat sosok individual dan juga sosok pribadi sosial.
Itulah hakikat dasar suatu keseimbangan eksistensial yang terdapat di dalam diri seorang manusia.
Kisah Pria Mapan dan Sang Bijaksanawan
Seorang Pria yang sungguh mapan hidupnya datang dan bertanya kepada sang Bijaksanawan.
“Tuan, apa yang perlu saya lakukan, agar hidup saya kian berguna di dalam kehidupan ini?”
“Pergi dan berikanlah apa yang engkau miliki.” Demikian jawaban Bijasanawan itu.
Namun, kini tampak wajah pria mapan itu berubah pucat dan sirnalah cahaya pada bola-bola matanya.
“Apa yang sedang engkau gulati di dasar lubuk jiwamu?” tanya Bijasanawan itu.
“Ya, tapi, jika aku mau dan benar-benar memberikan semua harta milikku, bagaimana hidupku kelak, Tuan?”
“Lihatlah ke angkasa biru atau tengoklah pada rerumputan di lereng perbukitan itu, indah dan menarik bukan? Ketahuilah, bahwa mereka itu tidak pernah mati kelaparan atau hilang keindahannya; sekalipun mereka tak pernah memasak makanan dan menenun kain.”
Lalu, pergilah pria mapan itu sambil terus memikirkan tentang bagaimana nasib hidupnya kelak.
(Dari berbagai Sumber)
Hanya Orang yang Terbuka Hatinya yang bisa Membuka Tangannya
Tangan ini hanyalah sarana lahiriah yang bergerak atas dasar perintah hatimu. Jika hatimu memang sedang erat terkatup, maka tanganmu akan turut tertutup rapat.
Karena hati adalah ‘pusat kesadaran manusia.’ Pusat dari segala rasa dan isi dari segala pikiran. Maka, hal yang utama dan pertama adalah bagaimana kualitas isi hatimu.
“Berbahagialah orang-orang yang suci hatinya, karena mereka akan memandangi wajah Allah,” Sabda Yesus.
Semoga isi dan amanat dari tulisan reflektif ini sanggup mengayakkan hati dan jiwa kita.
Karena tungkai tangan-tangan yang terulur terbuka, hanyalah ekspresi tulus dari kualitas isi hati ini.
“Di mana hartamu berapa, di situ pun hatimu berada!” (Yesus Kristus)
…
Kediri,ย 9ย Novemberย 2024

