Bagian 120
Konsep kesombongan, meskipun tidak secara eksplisit didefinisikan dalam Katekismus Gereja Katolik, dapat dipahami melalui lensa kebajikan dan keburukan yang terkait, terutama dalam konteks kerendahan hati dan kesombongan.
Arogansi dapat dilihat sebagai keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuan atau pentingnya diri sendiri, yang sering kali mengarah pada pengabaian terhadap orang lain dan kurangnya kerendahan hati. Katekismus menekankan keutamaan kerendahan hati sebagai hal yang penting untuk pemahaman yang benar tentang diri sendiri dalam hubungannya dengan Tuhan dan orang lain. Kerendahan hati disajikan sebagai sebuah sikap dasar yang memungkinkan setiap orang untuk mengenali ketergantungan mereka pada Allah dan martabat orang lain.
Dalam Katekismus, kerendahan hati terkait erat dengan pengakuan akan keterbatasan seorang dan kebutuhan akan kasih karunia Allah. Sebagai contoh, Paragraf 2540 menyatakan, “Gereja, dalam ajarannya, selalu menekankan pentingnya kerendahan hati yang merupakan fondasi kehidupan Kristen.” Hal ini menyoroti pentingnya kerendahan hati itu berbeda dengan kesombongan, yang sering kali berasal dari kurangnya kesadaran akan keterbatasan diri dan kegagalan untuk mengenali kasih karunia Allah dalam hidup seorang.
Lebih jauh lagi, kesombongan sering diidentifikasikan sebagai akar dosa yang dapat mengarah pada berbagai bentuk kesombongan. Katekismus membahas kesombongan dalam Paragraf 1866, yang menyatakan, bahwa kesombongan adalah “cinta yang berlebihan terhadap diri sendiri” dan dapat menyebabkan distorsi hubungan seseorang dengan Allah dan orang lain. Hal ini selaras dengan pemahaman, bahwa kesombongan adalah manifestasi dari keangkuhan, di mana seorang menempatkan dirinya di atas orang lain dan bahkan di atas Tuhan.
Singkatnya, meskipun Katekismus tidak memberikan definisi langsung tentang arogansi, namun dapat disimpulkan melalui diskusi tentang kerendahan hati dan kesombongan. Arogansi bertentangan dengan kebajikan Kristiani, yaitu kerendahan hati dan dapat dilihat sebagai distorsi persepsi diri dan hubungan seorang dengan Tuhan. Ajaran Gereja mendorong orang-orang percaya untuk memupuk kerendahan hati dan mengakui ketergantungan mereka pada kasih karunia Ilahi, yang sangat kontras dengan kemandirian yang diwujudkan oleh kesombongan.
Referensi lebih lanjut, lihat:
Katekismus Gereja Katolik, Paragraf 2540 dan 1866.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

