“Tiada sedu sedan, bersama Yesus hidup adalah sukacita.” – Mas Redjo
…
Tidak hanya dirasakan, tapi saya resapi dan nikmati. Karunia kasih Tuhan bagai gelombang samudera yang tiada henti.
Ketika jatuh, Tuhan mengulurkan tangan-Nya untuk membantu saya bangun kembali. Jika terluka dan sakit, saya diobati dengan telaten dan disembuhkan-Nya.
Ketika saya ngambek, menghindar, atau bahkan menjauhi-Nya, Tuhan tersenyum memahami. Dia mencari dan datang mendekati, karena ingin memeluk saya dengan cinta untuk meredakan gejolak hati ini.
“Ada apa denganmu? Berceritalah kepada-Ku. Semua itu jangan kau tanggung sendiri. Karena Aku akan memberi kelegaan untukmu.”
Ketika sedang emosi dan berbuat salah pada keluarga atau teman, Tuhan mengingatkan saya dengan lembut dan bijak. Dia mengajari saya seni mendengar dan melihat dengan hati. Tanpa nyinyir, emosi, konflik, apalagi untuk mendendam. Tapi untuk mengasihi.
Berdiam itu seni untuk mendengar, mencerna, dan menggendalikan diri agar tidak terpancing godaan si jahat. Dengan mengalah untuk memahami orang lain agar kita jadi sabar, tabah, dan rendah hati.
Membiasakan diri untuk curhat atau berbagi bercerita dengan Tuhan membuat hidup saya serasa tiada beban, tenang, dan damai. Hidup makin semangat, karena dipenuhi sukacita.
Karena ingin makin mendekatkan diri pada Tuhan dan melayani-Nya, saya ingat tentang rahib, pertapa yang pendoa. Saya ingin mengikuti jejak mereka. Hidup dalam keheningan dan untuk berdoa.
Anehnya, ketika ingin berada dekat untuk melayani Tuhan, saya seperti ditegur dan diingatkan oleh nurani sendiri.
Bahwa mengasihi Tuhan itu tidak untuk melarikan dari masalah atau emosi, tapi datang dari kesadaran hati, karena dikasihi-Nya.
“Jika kau ingin makin dekat dan mengasihi Tuhan, hendaknya kau murah hati untuk kian mengasihi sesama.”
Saya diam untuk merefleksikan diri. Menghadirkan kasih Tuhan berarti mewujudkan tindakan kasih itu secara nyata dalam keseharian.
Semoga motivasi saya dimurnikan Tuhan, dan ikhlas!
…
Mas Redjo

