| Red-Joss.com | Selama 32 Hari saya berada di Rumah Retret Girisonta, Ungaran. Selama 30 Hari, saya ikut retret terbimbing bersama Romo Dibyawiyata SJ (06 Nopember 1941). Jika Bapak saya masih hidup, usianya seperti Rm. Dibya ini. Selama retret, saya seperti mendengarkan nasihat-nasihat dari ‘Bapak’ saya.
Retret ini menjadi ‘titik balik’ bagi saya untuk melihat perjalanan hidup dan panggilan saya. Ada ‘cara baru’ bagi saya untuk mengenal, mencintai, dan mengikuti Yesus.
Pondasi rohani dikokohkan lewat latihan-latihan rohani yang diperkenalkan oleh St. Ignatius Loyola, pendiri Serikat Yesus (SJ).
Lewat latihan rohani itu, ada tiga makna yang dalam, yaitu: “pengalaman, pembelajaran dan ujian.” Latihan-latihan ini menuntunku sampai mencecap, merasakan, dan menikmati pengalaman kehadiran Allah sepuas-puasnya.
Selama 30 hari ada buah-buah rohani yang kudapatkan, yaitu trilogi ini: Sikap rendah hati, bersyukur, dan persembahan diri.
Pertama: Sikap Rendah Hati. Saya renungkan dan menghantar saya untuk mengetahui kekecilan saya dan sekaligus melihat Allah yang Maha Besar. Dari situ memimpin saya untuk meletakkan hidup saya di tangan-Nya. Selanjutnya terus-menerus mengandalkan Tuhan dalam menjalani peziarahan hidup ini.
Kedua: Sikap Syukur. Sikap ini saya maknai, karena melihat pengalaman dicintai Tuhan dan sesama. Saya dicintai oleh kedua orang tuaku (bahkan sampai hari ini, terus-menerus didoakan oleh Simbokku dan Bapakku di surga). Saya dicintai oleh teman dan sahabat. Saya disayang oleh anak-anak rohaniku di YEM Family. Saya didukung oleh konfrater SCJ. Juga saya selalu dibuat bahagia didalam setiap berjumpaan. Sehingga aku benar-benar sebagai orang yang bahagia (“Blessed – Joy – Makarios”).
Ketiga: Sikap Persembahan Diri. Sikap ini diwujudkan untuk mempersembahkan diri secara total dalam perutusan dan pelayanan. Secara kongkrit dibagikan untuk perutusan misiku di Macau, untuk YEM Family, dan umat Allah yang kujumpai dalam perutusan dan pelayanan itu. Sebab Santo Ignatius Loyola berpesan: “Cinta harus terwujud dalam perbuatan daripada dalam kata-kata.”
Akhirnya, dalam Dia aku diperbaharui dan diutus. Bersama Dia, aku membagikan cinta-Nya.
Pengalaman selama 32 Hari di Rumah Retret Girisonta, menempatkan Yesusku sebagai “pusat-kompas” untuk ‘Jalan Hidup Bahagia’ di dunia dan di surga (hidup kekal). Aku menerima semua pengalaman ini dalam ruang batinku. Sampai kepada “inner peace – serenity.”
Kuakhiri Pojok Refleksi ini, dengan menuliskan kembali motto imamatku dan motto hidupku.
Motto Imamatku: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yohanes 15: 16).
Motto hidupku:
“Kuberikan Hatiku untuk mengasihi dan mengampuni. Kuulurkan tanganku untuk melayani.”
Terima kasih … Terima kasih …
Semuanya karena Anugerah-Nya. Amin.
…
Rumah Retret Girisonta, 07 Nopember 2024
Rm. Petrus Santoso SCJ

