Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kemegahan dan keagungan bagai hiasan belaka kala jiwamu dijemput kereta senja menuju gulita
kelam”
(Pada Sepotong Catatan)
…
Hendaknya Anda dan saya pun kita jangan sampai bersikap salah kaprah!
Mari ikuti dengan saksama dan camkan ‘kisah unik serta bermakna’ berikut ini!
Peziarah di Bumi
Suatu kesempatan seorang pelancong asal Amerika bertandang ke kediaman Rabi Agung asal Polandia, Hafez Chaim.
Betapa terkejutnya pelancong itu, tatkala dia melihat kondisi riil rumah sang arifin. Dia hampir tak dapat percaya, begini sederhanakah kediaman seorang Rabi tersohor itu?
“Rabi, di manakah perabotmu?” tanya pelancong itu.
“Kepunyaanmu sendiri, di mana?” jawab Hafetz.
“Kepunyaan saya? Saya kan hanya seorang pelancong di sini. Saya hanya numpang lewat.”
“Oh sama, saya juga cuma numpang lewat!”
Anthony de Mello, SJ
Hanya Seutas Kafan
‘Hanyalah seutas kafan’ adalah judul puisi yang penggalannya terpampang gamblang pada sub judul di atas. Bahwa sesungguhnya ‘kemegahan dan keagungan manusia itu bagai hiasan belaka.’
Hal itu kelak akan terasa sangat ironis, di saat pencuri jiwa itu datang menghadang Anda, juga saya?
Sang Pelancong pun Kita sering Salah Kaprah
Kita, manusia di atas ceper bumi ini, cenderung untuk menghamburkan, memamerkan, dan mengukur kualitas hidup manusia atas dasar kelimpahan harta duniawi semata.
Standar Hidup Sejati
Sesungguhnya apa yang jadi standar dan dasar ukuran sejati dalam hidup kita?
Sikap dan tuturan pelancong itu sudah dapat jadi standar atau ukuran yang mewakili cara pandang umat manusia pada umumnya, bukan?
Apa yang sesungguhnya jadi kebutuhan paling vital bagi jiwa kita di atas bumi ini?
Mari kita mencari dan mengumpulkan harta serta kekayaan rohani bagi kesejahteraan jiwa kita. Itulah harta mulia yang tak terambil dari dalam jiwa kita. Itulah harta surgawi.
Dalam konteks ini, Tuhan pun lewat dengan aneka cara dan tanda, telah mengajak agar kita mengumpulkan harta surgawi. Tuhan telah menyediakan santapan bagi jiwa kita.
Bahkan, Raja Salomon dalam kemegahannya tidak berpakaian seindah bunga bakung di ladang. Atau burung pipit di udara, tidak seekor pun mati kelaparan,’ padahal mereka tak berlumbung.
Semoga Anda dan saya hidup sebagai insan yang giat mengumpulkan harta rohani bagi santapan jiwa ini!
…
Kediri, 5 November 2024

