“Mensyukuri jalan hidup dengan ikhlas hati itu anugerah-Mu.” – Mas Redjo
…
Lelaki tua di senja usia itu menarik nafas panjang. Dadanya menyesak dan sakit.
Sedih sesedihnya itu yang ia alami dan rasakan, sejak istri tercintanya berpulang. Bahkan, jika boleh jujur, terjadi baru kali ini.
Ia disalahpahami anak-anaknya. Padahal ia ingin menikah lagi agar mempunyai teman berbincang dan berbagi, hingga maut itu datang menjemput.
Ia juga telah siap mental dengan tatapan sinis, prasangka buruk, atau nyinyiran negatif orang. Jika dicap tidak sadar diri, ingin menikah lagi, padahal tubuh ini sudah bau tanah.
Tapi disalahpahami anak membuat jiwanya terluka untuk berefleksi, menata pikir dan hati kembali.
Ia tinggal sendiri, karena anak-anak tinggal di luar kota. Untuk tinggal bersama dengan seorang anaknya tidak dilakukan, karena rumah yang ditempati itu menyimpan kenangan indah bersama istri. Ia juga akrab dengan para tetangga.
Bisa juga anak-anak takut, karena tidak kebagian warisan?
Prasangka buruk itu cepat-cepat dibuangnya jauh.
Dalam kebimbangan itu ia ingin menguji kesungguhan cinta dari calonnya. Seandainya pindah di rumah kontrakan yang jauh agar tidak dikenali. Sekaligus untuk menghindari nyinyiran orang lain.
Ketika niat itu disampaikan, calon istrinya tidak setuju dengan banyak alasan. Meski masuk di akal, tapi membuat hatinya jadi bimbang dan ragu untuk meneruskan hubungan itu.
“Aku ingin pindah di tempat baru, karena ingin menata hidup baru denganmu.”
Calonnya yang keukeh menolak itu membuat hatinya jadi kecewa, dan terluka.
Dalam puncak keraguan itu ia sujud berdoa dan berserah pada Tuhan. Dibuangnya jauh-jauh bayangan orangtua yang meninggal dalam kesepian, karena jauh dari anggota keluarga.
Ia juga mempunyai opsi terakhir, yakni tinggal di panti werdha. Bukan berarti dibuang, dikecewakan keluarga atau orang lain, melainkan hal itu datang dari kesadarannya sendiri. Ia juga tidak ingin merepoti orang lain.
Bisa jadi kehadirannya di panti itu dapat membawa perubahan bagi penghuninya. Tuhan mengarahkan hidupnya untuk tinggal di sana?
“Sumangga Gusti,” bisiknya lirih. Dengan berdoa dan berserah ikhlas, perlahan-lahan hatinya jadi tenang dan damai.
Di sisa usianya itu ia ingin miliki hidup yang bermakna, meski cahayanya meredup dan hampir padam.
…
Mas Redjo

