“Tubuh ini ibarat rumah jiwa yang harus dijaga dan dirawat dengan baik agar kita sehat lahir batin.” – Mas Redjo
…
Untuk yang kesekian kalinya, istri meminta saya agar mengalah. Menunggu dan berharap pada si empunya rumah untuk segera membetulkan genting-genting yang melorot dan bocor itu waktunya tidak pasti. Lebih baik mengupahi tukang, dan beres.
“Ketimbang kamar bocor dan banjir, karena mulai sering hujan,” kata istri beralasan yang membuat saya tidak berkutik, kecuali mengiyakan dan mengalah.
Jujur, semula saya berpikir, karena sibuk bekerja, maka urusan rumah itu saya serahkan ke istri. Apalagi si empunya rumah juga tinggal se-er-te dengan kami. Karena menunggu tiada kepastian, saya lalu menyuruh tukang untuk membetulkannya.
Selain itu, ternyata pola pikir saya keliru. Hidup berumah tangga itu jadi tanggung jawab bersama. Tugas dan pekerjaan itu bukannya dipilah-pilah, melainkan dikerjakan bersama agar tidak memberatkan dan merepotkan yang lain.
Kesadaran itu muncul, ketika saya melihat istri yang seharian bekerja, tapi malam harinya juga mengurusi anak yang rewel, apalagi, jika anak itu sakit.
Ingat rumah kontrakan, saya jadi ingat dengan tubuh sendiri. Karena yang menempati, kita pula yang bertanggung jawab. Tidak untuk menyalahkan orang lain dan atau demi pembenaran diri. Tapi sadar diri. Rumah kontrakan atau tubuh ini harus dijaga dan dirawat dengan baik.
Rumah kontrakan yang tertata rapi, bersih, dan sirkulasi udara yang baik itu membuat penghuninya jadi nyaman dan betah di rumah.
Begitu pula dengan tubuh sebagai rumah jiwa yang harus dijaga dan dirawat agar senantiasa bersih dan sehat. Jadi, tidak hanya jiwa yang harus dijaga kesuciannya, tapi juga tubuh ini. “Mens sana in corpore sano,” artinya jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat pula.
“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya. Semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Tesalonika 5: 23-24).
…
Mas Redjo

