“Bukan aku yang memilih waktunya, tapi Engkau.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Setiap kali melayat, atau mengikuti misa arwah, tidak hanya diingatkan, tapi saya seperti ditegur oleh-Nya agar senantiasa berjaga-jaga dan bersiap sedia untuk menghadap pada-Nya.
Ketika menyanggupi untuk diutus Tuhan Yesus berarti kita tidak sekadar menjalani, tapi dituntut untuk komitmen dan konsisten. Kita menghidupi teladan-Nya dalam keseharian untuk hidup baik, dan makin baik lagi. Karena hidup kudus adalah ungkapan rindu kepada-Nya.
Ternyata rindu kita kepada orang yang dicintai dibandingkan dengan Tuhan Sang Pencipta itu sangat berbeda. Ibarat bumi dengan langit.
Bagaimana tidak. Terhadap orang yang dicintai, jika berjauhan. Kita ingin bertemu, bertatap muka, berbincang mesra, lalu melepas rindu. Tapi tidak jarang, hati ini jadi gundah gulana, terluka, dan sakit, ketika terdapat jurang perbedaan dan tembok pemisah.
Berbeda, jika hati ini merindu pada Tuhan. Kita dapat melepas rindu itu dengan cara berdoa, membaca KS, Ekaristi Kudus, dan melayani sesama untuk menghadirkan kasih-Nya.
Hasilnya juga berbeda, ketika kita melepas rindu pada Tuhan, jiwa ini jadi nyaman tentram, damai, dan bahagia.
Tidak hanya itu, dengan berbagi ikhlas hati pada sesama, kita melihat wajah-wajah nan cerah sumringah. Dunia pun makin tampak semarak indah.
Ketika hidup ini sebagai ungkapan cinta pada Tuhan, kita makin intim dan menyatu mesra dengan-Nya. Sehingga, saat waktunya tiba dan kita menghadap pada-Nya. Kita merasakan dekapan mesra kasih-Nya yang membahagiakan jiwa!
“Terimalah jiwaku, karena aku milik-Mu.”
…
Mas Redjo

