| Red-Joss.com | Baru saja mendapat kabar, ipar saya dapat cucu pertama, setelah sekian tahun menanti. ‘Cesss… anyes seperti embun pagi’. Gideon namanya. Lahirnya Gideon ibarat embun di panasnya kemarau panjang.
Welcome to the world, dear Gideon.
Embun adalah uap air yang terbentuk dari proses perubahan gas menjadi zat cair. Menyambut pagi atau sehabis hujan, embun itu biasanya akan muncul di sela-sela kaca jendela atau di balik daun.
Embun tidak pernah memilih di daun mana dan apa butiran-butirannya akan terbentuk. Bentuknya yang sederhana, bening, dan mampu berubah bentuk mengikuti lingkungan tempatnya berpijak membuat daun-daun betah jadi tempat persinggahannya. Melihat embun yang begitu sederhana, ternyata sebagai manusia kita bisa belajar banyak.
(1) Melalui butiran kecilnya, kita belajar untuk menerima dengan sukacita di manapun Tuhan menempatkan kita.
(2) Bentuknya yang sederhana, mengajarkan kita untuk hidup sederhana, tanpa topeng-topeng kebohongan. Karena Tuhan menyukai hati yang sederhana, namun penuh kasih.
(3) Melalui embun yang sejuk, kita juga bisa belajar untuk menempatkan diri dengan baik. Sebagai manusia, kita bisa memberi kesejukan di hati orang yang berada di sekitar kita dan tidak membuat kegerahan dalam hati mereka.
(4) Seperti embun, kita tidak perlu jadi orang lain untuk memikat hati Tuhan. Sebab Tuhan tahu segalanya, Dia tahu yang sebenarnya.
(5) Datanglah kepada-Nya apa adanya dan jadi diri sendiri, sebab Dia mencari hati kita. Hati yang mau dibentuk, hati yang bersedia mengasihi-Nya dan hati yang bersih.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

