Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pahat adalah sarana hidup yang sangat berguna bagi manusia.
Namun jika sudah berada di tangan Setan semuanya dapat seketika berubah”
(Didaktika Kearifan Hidup)
..
Pahat sebagai Sarana Hidup
Dalam hidup konkret ini, manusia membutuhkan aneka sarana demi melancarkan pekerjaan atau aneka usaha dalam membangun asa hidupnya.
Tidak terkecuali, pentingnya setangkai pahat. Sejenis sarana untuk memahat, hingga sarana itu disebut pemahat.
Namun semua sarana penting itu dapat berubah fungsi, ketika sarana penting itu berada di tangan Setan.
Pematah Semangat
Mari ikuti dengan saksama kisah filosofis setangkai pahat di tangan Setan.
Konon, suatu hari Setan menjual semua peralatannya. Salah satu di antaranya, setangkai pahat. Alat yang berbentuk pahat yang berukuran kecil dan tajam itu dengan harga selangit.
Saat ditanya tentang hal itu, Setan menjawab, bahwa, “Alat ini adalah sarana yang paling berharga bagiku.”
“Itu adalah alat untuk mematahkan semagat siapa saja,” kilah Setan bersemangat dan meyakinkan.
Dengan alat itu, ternyata dia dengan sangat mudah masuk ke dalam pikiran dan hati manusia demi mengacaukan kehidupan mereka.
(Pulpit Digest / 1500 Cerita Bermakna)
Hidup tidak Berpengharapan
Hidup manusia memang tidak luput dari hilangnya sekeping asa. Ada saat-saat yang terasa sangat pahit. Situasi manusia merasa seolah-olah didera oleh beban dan tantangan hidup.
Jika kita mau bersikap berani dan jujur untuk bertanya diri: “Dari mana datangnya hilang asa itu? Mengapa dan ke mana perginya sekeping asa di dalam dada manusia?”
Aku dapat Jadi Setan
Sang arifin berujar, bahwa ‘segala sesuatu dalam hidup ini, sangat bergantung dari diri sendiri.’ Hitam atau putih hidup ini, kita sendiri yang menentukannya. Demikian pahit dan manis hidup ini, semua berpulang pada diri sendiri juga.
Bukankah aku adalah Tuan atas diriku? Aku sendiri yang menentukan, apakah aku bahagia atau tidak.
Ketahuilah, bahwa sejatinya ‘Setan itu adalah hantu diri sendiri.’ Aku dapat menjadi Setan yang mampu menciptakan setangkai pahat tajam pematah semangat hidupku.
“Malas itu adalah bantal setan,” demikian seuntai pepatah petitih bangsa kita. Hal ini mau menggambarkan, bahwa kemalasan itu adalah kehendak nurani kita sendiri.
Sudah sangat sering pula manusia itu telah ‘menghantui diri dan asa hidupnya!’ Lewat pikiran dan perasaan hatinya, dia telah menciptakan aneka hantu bagi dirinya sendiri.
“Aku ini orang gagal yang tak bermasa depan,” keluh seorang mahasiswa.
Itulah hantu dalam diri mahasiswa itu. Itulah tajamnya setangkai pahat pematah semangat.
“Kita adalah orang-orang yang tak berpunya,” keluh seseorang yang enggan untuk berjuang. Itulah setangkai pahat tajam pematah semangat.
Pertanyaan Kritis Retoris
Hingga kapan kita akan terus bermimpi tentang setangkai ‘pahat tajam pematah semangat?’
Mari kita hindari aneka pikiran dan perasaan sesat yang justru akan kian menumbuhkan sikap pesimis dalam diri kita.
Katakan kepada diri sendiri, bahwa “aku adalah pribadi merdeka yang sanggup menajamkan setangkai pahat penumbuh harapan!”
Akulah pemilik masa depan hidupku. Aku adalah tuan atas diriku!
…
Kediri, 28 Oktober 2024

