“Kesuksesan itu dilihat bukan pada gebyarnya, melainkan pada pemaknaannya dalam menjalani semua itu dengan sukacita.” – Mas Redjo
…
“Jangan menolak mandat, jika kau diberi tugas oleh Gereja. Jalani semua itu dengan rela hati sebagai ungkapan syukur pada Tuhan,” kata saya pada si sulung yang dipercaya jadi Kaling.
Tidak sekadar meminta, tapi juga memotivasi anak agar berbesar hati. Untuk tidak ragu dan takut dengan bayangannya sendiri.
Bukan bisa atau mampu tidaknya melaksanakan tanggung jawab itu, melainkan kesanggupan kita untuk melaksanakan tugas itu dengan rela hati dan sukacita.
Lebih bijak dan rendah hati, kita berdoa untuk mohon penyertaan dan pendampingan-Nya, karena Tuhan setia.
“Bapak selalu siap sedia membantu kamu, Le,” kata saya membesarkan hatinya agar dia tidak ragu memulai tugas penggembalaannya itu.
Sebagai orangtua atau para senior, kita dituntut bijak untuk melakukan estafet kemimpinan itu dengan baik. Kita tidak boleh miliki anggapan dan langsung bebas lepas tangan, karena diganti oleh kepengurusan baru itu.
Sebaliknya, kita dituntut berbesar hati untuk mendampingi pengurus baru itu agar mereka tidak merasa ditinggalkan sendirian. Sehingga menimbulkan trauma, ketakutan, bahkan perasaan enggan dan malas bagi para calon pengurus berikutnya.
Karena itu, jangan biarkan pengurus baru itu berjalan sendiri. Tapi wajib didampingi dan diarahkan, supaya mereka percaya diri dan mandiri.
Sejatinya, kemajuan Gereja itu tidak sebatas ditentukan oleh Gembala dan para pengurusnya. Tapi juga jadi tanggung jawab kita bersama untuk bersinergi memajukannya.
“Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2: 4).
“Layanilah seorang akan yang lain dengan kasih” (Galatia 513).
“Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia jadi pelayanmu” (Matius 23: 11).
Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

