“Veritatis Numquam Perit“
“Kebenaran tidak akan mati atau pun lenyap”
(Seneca)
…
| Red-Joss.com | Dalam kesempatan ini, saya menurunkan sebuah tulisan yang berlatar belakang tentang ‘penting dan mendasarnya sebuah kebenaran’ dalam hidup.
Mengapa justru tentang sebuah kebenaran? Saya merasa sungguh ditantang oleh isi dari Tajuk Rencana dalam harian Kompas, Sabtu (10/10/2024), berjudul, “Guru Besar Abal-abal.”
Di dalamnya dibahas hal “Pelanggaran integritas akademik yang masih terus terjadi. Setelah sebelumnya juga ada kasus joki karya ilmiah, kini terungkap kasus guru besar yang terjerat jurnal ilmiah abal-abal.”
Lengkapnya demikian, ‘temuan tim peneliti Badan Riset dan Inovasi (BRIN), bahwa 8 dari 10 guru besar pernah menerbitkan karya ilmiah di jurnal yang terindikasi predator alias abal-abal (Kompas, 17/10/2024) menambah panjang daftar pelanggaran integritas akademik di Tanah Air. Berbagai pelanggaran akademik telah terjadi, termasuk plagiasi karya ilmiah dan juga pemalsuan karya ilmiah untuk meraih atau meningkatkan akreditasi institusi.
Kebenaran sering Dikorbankan
Seneca menegaskan, bahwa ‘kebenaran tak pernah mati, karena di balik kebenaran ada benih-benih kebaikan dan yang mampu mengenalinya adalah akal budi.’ Artinya, apa saja yang baik bisa saja ditekan, tetapi ia tak akan lenyap.
Apa itu Kebenaran?
Santo Thomas Aquinas berpendapat, bahwa “Kebenaran adalah kesesuaian antara pikiran (thought) dengan realitas sesuatu (thing).
Kebenaran itu terletak pada kejujuran dalam tindakan dan kejujuran dalam perkataan, serta menjauhi kepalsuan dan kemunafikan.
Olah karena itu, di dalam keyakinan Kekristenan, bahwa kebenaran itu adalah sintesis dari iman (faith) dan akal budi (reason), yang dimanifestasi secara penuh dalam tindakan kasih (love).
Maka, orang-orang Kristen diharapkan agar mereka tidak takut untuk menyuarakan kebenaran secara gamblang serta lantang.
Yesus, Sang Guru Agung mereka sudah menyatakan Diri-Nya sebagai, “Jalan, Kebenaran dan Hidup”
Ego sum Via, Veritas, et Vita. (Yohanes 14: 6).
Jadi, di dalam konteks ini, suatu kebenaran tidak sekadar dihubungkan dengan ‘apa’, tetapi ‘siapa’. Bukan semata-mata terletak pada sebuah kitab, melainkan pada figur atau sosok pribadi Yesus Kristus.
Sungguh Kebenaran itu tidak dapat Dikuburkan
Bukankah sesuai hukum alam, bahwa “semua yang busuk itu akan berbau menyengat?” Artinya semua tindakan dan perbuatan yang bersifat palsu, cepat atau lambat akan terbongkar juga.
Sungguh, suatu kebenaran memang tidak pernah dapat dikuburkan.
Konklusi
Bukankah sebuah kebenaran akan bercahaya dan bersinar laksana matahari?
Barang siapa bermain air, ia akan basah. Barang siapa bermain api, ia pun akan terbakar.
…
Kediri, 27 Oktober 2024

