Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Rahasia Kesuksesan adalah Ketulusan.”
(Jean Giraudoux)
…
| Red-Joss.com | Saya tengah mencoba untuk mengantar dan membantu para saudara agar mampu memasuki serta memahami rerelung pemaknaan dari sebuah kisah unik serta interisan berikut ini.
Mungkin saja, justru Anda itu pribadi agung yang sanggup untuk melakoninya.
Pria di Dalam Lubang
Ada seorang pria malang yang terperosok ke dalam sebuah lubang tanah. Dia segera berteriak meminta pertolongan.
Seorang Profesor datang dan ia lalu memandang ke dasar lubang. Dia segera berceramah dengan lantang perkasa.
“Mengapa saudara bertindak bodoh dengan membiarkan dirimu terperosok ke dalam lubang? Kelak, jika Anda berhasil ke luar, semoga Anda perlu lebih berhati-hati lagi ya.” Lalu, dia segera beranjak pergi.
Kemudian datang seorang Biarawan saleh. Dia memandang ke dasar lubang sambil berkata, “Saya akan mencoba mengulurkan tangan sebisa saya. Anda harus mengulurkan tangan ke atas. Jika saya berhasil memegang tangan Anda, saya akan menarik Anda ke luar.”
Keduanya mencoba untuk saling mengulurkan tangan, namun sayang, tidak berhasil. Biarawan itu akhirnya menyatakan penyesalannya dan segera beranjak pergi.
Sesaat kemudian, datang Sang Kristus. Ketika Dia melihat pria malang itu, hati-Nya terenyuh.
Dengan tanpa berkomentar lewat aneka pernyataan, Dia memohon pria malang itu untuk menaiki pundak-Nya sambil berpijak pada tangan-Nya yang terentang lebar. Segera pria malang itu dapat ke luar dari dasar lubang itu.
(1500 Cerita Bermakna)
Tanggalkan Kalkulasi Isi Kepalamu
“Hanya Tuhan yang Sanggup,” adalah judul tulisan yang bermakna sangat mendalam ini. Mengapa justru hanya Tuhan yang sanggup? Di manakah sirnanya kecerdasan isi kepala sang Profesor? Ke mana pula minggatnya niat tulus dan keihlasan nurani Biarawan saleh itu?
Manusia itu sudah ibarat Sebuah Kalkulator
Tidak jarang, justru melubernya isi otak manusia itu justru telah menghambatnya untuk bersikap dan bertindak manusiawi.
Karena di saat menghadapi sebuah permasalahan, yang biasa dilakukan oleh manusia ialah berkomentar dan melontarkan aneka argumen hingga lupa menangani inti masalah.
Perngalaman serupa ini justru sangat sering dijumpai dalam kehidupan riil kita, bukan?
Bagaimana pengalaman Anda di saat mengantar pasien sekarat untuk diopname di rumah sakit? Apakah pasien itu akan segera ditangani, ataukah yang pertama dilakukan justru peradministrasian, bukan?
Hal serupa ini mau membuktikan, bahwa cara berpikir dan bertindak kita ini sudah identik dengan sistem kerja sebuah mesin kalkulator.
Tetapi cara Tuhan bertindak justru tanpa kata-kata. Cara Tuhan bekerja ialah dengan segera mempersembahkan Diri-Nya.
“Aku hadir demi engkau!”
(Amanat Agung sang Kehidupan)
…
Kediri,ย 25ย Oktoberย 2024

