| Red-Joss.com | Seorang teman kirim pesan kepada saya, “Ayo, ngumpul. Jangan asyik dengan diri sendiri!”
Saya terperangah. Dada ini serasa ditohok.
Benarkah, saya asyik dengan diri sendiri?
Saya tidak langsung menanggapi, tapi berefleksi diri.
Saya menolak tuduhan itu. Selama ini saya berhubungan dan akrab dengan banyak teman, meskipun lewat gadget atau bertelepon-ria.
Jika berhubungan secara langsung itu benar. Karena saya membatasi diri. Berkumpul, jika penting. Bahkan sesekali saya menghadiri pameran lukisan mereka.
Sibuk? Tidak juga. Saya mengelola waktu dengan baik. Tapi kebiasaan disiplin dengan target itu membuat saya selalu membatasi diri dalam bergaul. Mengutamakan pekerjaan dulu, lalu santai, dan tanpa beban.
Saya juga tidak sebebas dulu lagi, karena mempunyai keluarga. Saya harus mendulukan keluarga di atas kepentingan sendiri.
Kini, seorang teman penulis berkirim pesan mengajak saya untuk kumpul di TIM. Menghadiri “ Diskusi Sastra.” Teman itu termasuk pembicaranya.
Hati ini jadi tertarik. Saya menulis sekadar menyalurkan hobi dan untuk bersenang-senang. Sedang mereka profesional dan hebat.
Tiba-tiba, saya rindu ingin ke TIM melihat para senior yang mumpuni itu. Apalagi lebih dari 30 tahun tidak bersua mereka, karena kesibukan masing-masing.
Sabtu besok, saya diam-diam akan hadir di tengah mereka. Tidak untuk jadi pengamat, tapi saya hadir sebagai pendengar yang baik untuk belajar, memimba ilmu dan pengalaman mereka.
Srawung dengan mereka membuat saya serasa jadi muda kembali.
Api semangat jiwa yang harus dijaga agar tetap menyala dan berkobar.
Hidup ini harus dimaknai!
…
Mas Redjo

