Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jika seluruh umat manusia menghidupi ajaran kasih agama, Surga di akhirat nanti akan kebanjiran penghuni. Jika seluruh umat manusia mengingkari ajaran kasih agama, Neraka di akhirat nanti akan kebanjiran penghuninya.”
(Didaktika Ajaran Kasih Sejati)
…
Kisah Dialogis yang Menegangkan
Angulimala adalah seorang pembunuh berdarah dingin yang tak kuasa menahan dirinya untuk membunuh apa dan siapa saja.
Di suatu pagi, Angulimala sedang membuntuti seorang Biksu. Dengan pedang terhunus dia berniat menjadikan Biksu itu sebagai korbannya yang keseribu.
Tapi entah mengapa, di saat kian cepat dia berjalan, justru jaraknya dengan Biksu itu justru tampak kian menjauh.
Dia berhenti, lalu berteriak, “Biksu, berhentilah.” Biksu itu menoleh sambil berkata, “Saya sudah berhenti. Sudahkah kamu juga berhenti?”
Akhirnya keduanya mendekat. Di saat itu, Angulimala bersiap untuk segera menghunuskan pedangnya menebas leher sang Biksu.
Biksu itu berkata, “Maukah engkau mengabulkan permintaan terakhirku?”
“Baiklah, apa yang kau mau?”
“Tebas ranting ini.”
Dengan sekali ayunan, ranting itu terbelah dua.
“Nah, sekarang sambungkan kembali ranting itu” perintah Biksu.
Saat itu Angulimala terkekeh. “Kamu pasti sudah gila, mana ada yang bisa melakukannya?” olok Angulimala.
“Justru kamu yang gila, karena merasa kuat kamu mau melukai yang lemah dan merusak yang tak berdaya. Bukankah merusak dan melukai adalah pekerjaan mudah, anak kecil juga bisa. Saudara, yang kuat itu justru orang yang dapat menyembuhkan dan menciptakan sesuatu,” jelas Biksu.
Ternyata, Biksu itu bernama Sang Budha. Sejak saat itu, Angulimala bertobat dan mengikuti ajaran Sang Tercerahkan.
(Berguru pada Saru)
Inilah kisah paling dramatis dan menegangkan. Kisah heroik antara pembunuh berdarah dingin dengan sang penebar kasih sejati.
Kebenaran dan Kebaikan akan Mengalahkan Kejahatan
Inilah sebuah amanat keabadian. Juga sebuah didaktika hidup sejati. Bahwa sang kebaikan dan kebenaran akan memenangkan pertarungan abadi nan sengit itu. Hendaklah kita giat untuk menaburkan ajaran kasih sayang.
Anda dan saya, kita tidak diciptakan untuk membumihanguskan kehidupan ini. Namu justru untuk menghidupinya.
Konklusi Sejati
Jika di dalam refleksi hidup ini, Anda pun saya ternyata juga memikili karakter bengis Angulimala, maka marilah kita segera mengakhirinya. Karena tabiat dan cara-cara hidup seperti itu, justru sangat berseberangan dengan amanat agung dari Sang Pencipta kita, bukan?
“Deus Caritas est.”
…
Kediri,ย 17ย Oktoberย 2024

