Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Diam itu adalah emas, jika dilakukan tepat pada saat yang tepat”
(Didaktika Kearifan Hidup)
…
Diam itu Emas
Kapan kita seharusnya mampu untuk bersikap diam? Kapan pula saat yang tepat untuk berbicara?
Sang kearifan dalam hidup ini sering mengajarkan kita agar bisa bersikap diam pada saat yang tepat. Karena sikap diam itu ternyata bernilai mahal laksana sekeping emas.
Fakta Lapangan
Fakta di lapangan membuktikan, bahwa alangkah sulitnya sang manusia itu untuk dapat bersikap diam. Karena manusia itu memang sangat suka berbicara dan bahkan terus ingin berbicara.
Mengapa perlu Bersikap Diam?
Ternyata kita membutuhkan waktu untuk dapat bersikap diam, karena:
- Kita perlu bersikap diam di saat amukan amarah kita mulai memuncak.
Kala itu, batang lidah kita lebih cepat bergerak daripada isi kepala. Tidak jarang pula, bahwa sebuah masalah yang sepele justru menghancurkan kehidupan sebagai dampak orang keseleo lidah. Benar juga, karena lidah itu memang tak bertulang.
- Kita bersikap diam, kala kita tidak tahu inti sebuah masalah.
Sudah sangat sering, bahwa sebuah masalah kecil akhirnya berdampak besar, tatkala kita berani berbicara tentang masalah yang tidak diketahui. Memang dalam hidup ini sering juga ada pribadi yang sangat doyan untuk sekadar numpang tenar.
- Kita perlu bersikap diam agar tidak merusak relasi harmonis antar sesama.
Karena tidak jarang dalam hidup ini, relasi harmonis antar sesama terputus gara-gara kita tidak mampu menjaga lidah. Meski tidak jarang ada oknum tertentu yang doyan untuk sekadar bersilat lidah.
- Kita perlu bersikap diam di kala sedang sangat emosional.
Tidak jarang sebuah persoalan kecil justru jadi kian rumit, karena orang tidak mampu mengendalikan lidahnya yang terbakar oleh ledakan emosinya.
- Kita perlu sadar dan tahu pada prinsip, bahwa mendengar itu lebih bermanfaat daripada berbicara.
Sungguh benar. Karena kearifan hidup justru lahir dari sikap diam mendengarkan. Anda dan saya akan lebih arif untuk bersikap, justru setelah memahami inti sebuah masalah, bukan?
(Dari Aneka Sumber)
Realitas Menantang
Sejak dari awal penciptaan dan hingga kini, dunia terus dilanda kekacauan hidup sebagai dampak dari sikap kita yang tidak bisa diam.
Petentangan, pertengkaran, peperangan, dan berbagai kerumitan hidup yang kini sedang melanda dunia, juga diakibatkan, karena manusia tidak mampu untuk bersikap diam.
Kita seharusnya belajar dari kearifan alam semesta. Semisal lewat ungkapan, “diam-diam ubi berisi.”
Bukankah hampir semua karya luhur para maestro agung, justru tercipta dari keheningan? Dari diam?
Keheningan Sang Pemikir
Cermati pula pada keheningan patung ‘the thinker’ (sang pemikir), karya Auguste Rodin.
Sang pria yang duduk sambil menopang dagunya sebagai simbol, bahwa manusia itu adalah makhluk pemikir.
…
Kediri,ย 12ย Oktoberย 2024

