Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hidup dan berada pada posisi buntut adalah sebuah kenyataan dan bukan pilihan.”
(Didaktika Hidup Sejati)
…
| Red-Joss.com | Sebuah kondisi riil yang dihadapi dalam hidup ini, yang sering dialami sang manusia, pertama-tama bukan selalu atas dasar pilihan, melainkan atas dasar fakta realitas apa adanya.
Bermula dari Sebuah Kisah
Tulisan yang bernuansa kenyataan sosial dan bernada reflektif ini, berawal pada saat saya memahami sebuah pesan tentang realitas kehidupan ini dari pengalaman riil seorang Guru dan muridnya.
Inilah Kisahnya:
“Pengorbanan Gagah Berani”
Di saat saya masih aktif sebagai seorang Guru, perhatian saya tercurah kepada seorang murid yang mendapat peringkat terbawah pada ujian akhir tahun dalam kelas yang terdiri dari 30 murid.
Saat itu, saya melihat dia sangat tertekan, karena nilai ujiannya yang tidak bagus. Lalu saya menghampiri dan mengajaknya berbicara.
Spontan saya berkata kepadanya, “Harus ada orang yang berada di peringkat ke-30 dari 30 murid di kelas ini. Ingat, tahun ini, orang itu adalah kamu.”
“Kamu telah melakukan pengorbanan gagah berani agar tidak seorang temanmu yang menderita malu, karena mendapat peringkat terbawah.”
“Kamu sungguh baik, begitu penuh belas kasih. Kamu juga pantas untuk mendapat sekeping medali emas.”
Hanya kami berdua yang tahu, bahwa tuturanku ini ternyata sebuah kekonyolan, tapi muridku ini malah menyeringai lebar.
(Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya)
“Ini bukan Pilihan,” adalah tulisan yang bernafaskan kehidupan sosial reflektif. Inilah pula sebuah fakta miris yang terjadi di dalam sebuah kelas yang berisi 30 murid.
Jika ditinjau dari raihan nilai dan berdasarkan sistem pemeringkatan di kelas, tentu tidak akan ada dua atau tiga murid yang berada dalam peringkat yang sama.
Artinya jika di kelas itu terdiri dari 30 murid, maka masing-masing murid akan meraih dan berada dalam satu posisi saja. Konkretnya, bahwa ada murid yang meraih peringkat ke ‘satu’ dan ada pula murid yang meraih peringkat ke ‘tigapuluh.’
Amanat bagi Kehidupan
Inilah sebuah kenyataan yang selalu kita hadapi dari tahun ke tahun. Realitas dan risiko dari sebuah sistem yang kita anut.
Dalam konteks dan realitas ini, satu hal terpenting yang perlu ditanamkan di dalam kesadaran para murid dan para orangtua, bahwa kondisi dan keberadaan ini, tidak sekaligus mendeskripsikan posisi serta keberadaan seorang manusia ke depannya.
Kecerdasan IQ bukanlah Segala-galanya
Bahkan sebuah pemeringkatan dan berapa pun tingkat IQ seorang murid saat ini, tidaklah otomatis menggambarkan keberhasilan serta keberadaan murid itu di masa depannya.
Bukankah kecerdasan IQ justru seringkali tidak berbanding lurus dengan keberhasilan murid di masa depan? Karena masih ada aspek-aspek penting lainnya yang akan menentukan keberhasilan murid itu di masa depan.
Bahkan sesuai fakta di lapangan, justru murid yang memiliki kecerdasan emosi (EQ) dan spiritual (SQ), yang lebih berhasil dalam hidupnya daripada murid yang unggul berdasarkan kecerdasan nalar.
Panta Rhei
Bukankah masih ada sebuah prinsip hidup, bahwa segala sesuatu akan mengalir dan berubah? Di dalamnya, tidak akan ada sesuatu yang abadi!
(Panta rhei, Heraclitos)
…
Kediri,ย 11ย Oktoberย 2024

