“Kebanggaan itu semu dan tidak untuk dipamerkan, tapi disyukuri sebagai anugerah dan nikmat Tuhan.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Seorang Ibu bersemangat sekali menceritakan anak-anaknya yang sukses berkuliah dan bekerja.
Si A memberi uang bulanan untuk kebutuhan makan orangtua, si B menanggung biaya listrik dan ART, si C memberi jaminan asuransi, dan seterusnya.
“Bagaimana dengan anak-anak sampeyan?”
Saya tersenyum, tidak menanggapi dan tidak segera menjawab.
Apakah saya bangga, karena hidup mulia ikut anak-anak?
Apakah saya juga membanding-bandingkan dan memilah-milah anak, baik yang sukses atau tidak…
Saya bersyukur, dianugerahi hidup sehat. Untuk berpikir dan bekerja dengan jujur itu menyehatkan jiwa. Saya senang menyapu dan beberes rumah sendiri, karena saya ingin bergerak dan bekerja untuk jaga stamina agar senantiasa sehat.
Saya bersyukur, karena hingga kini tidak bergantung, menggantungkan hidup pada anak atau orang lain, tapi sepenuhnya bergantung pada kemurahan hati Tuhan.
Saya bersyukur, hati ini dicerahkan Tuhan untuk sadar diri. Sejatinya hidup ini untuk memberi, dan ikhlas hati.
Saya bangga terhadap anak-anak; dengan kekurangan dan kelebihan mereka. Sehingga adalah aib, jika kita membanding-bandingkan mereka, terutama memuji-muji yang sukses dan kaya.
Saya bangga, karena dipercaya dan dikaruniai Tuhan dengan anak-anak yang sehat.
Saya bangga dipercaya Tuhan untuk mengentaskan mereka dengan penuh syukur dan bertanggung jawab.
Saya bangga pada anak-anak, dan kebanggaan itu saya serahkan pada Tuhan sebagai ungkapan syukur.
…
Mas Redjo

