Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Worship Items“
Simbol yang mewakili makna tertentu.
“Bebaskan pikiranmu dari ingatan yang mengikatkan dirimu dengan barang sembahanmu.”
(Didaktika Hidup Bebas)
…
| Red-Joss.com | Mungkin banyak orang sudah tidak lagi menyadari, bahwa sangat sering manusia itu justru telah membelenggu dirinya.
Sembahan yang Membelenggu Jiwa
“Ada hidup tentu juga ada barang sembahan.” Artinya di dalam hidup ini, kita, manusia secara personal juga komunal, biasanya memiliki hobi atau selera unik untuk terikat pada barang-barang yang jadi sembahan.
Kita seolah-olah memiliki kiblat tertentu. Kiblat yang mengikat erat jiwa kita dengan barang tertentu. Itulah kelekatan!
Di Mana Hartamu Berada di Situ juga Hatimu
Seluruh hidup kita hanya tercurah dan terarah kepadanya. Apakah itu berupa sebutir bebatuan nan indah, mutiara, sulaman gaun nikah, sepasang cincin berlian, atau seekor herder berbulu mantel indah, atau pada sebuah jamban bunga kristal.
Maka, baik siang malam, bahkan ke mana kita pergi dan berada, seluruh ingatan serta perhatian kita akan tercurah dan terikat padanya. Dalam konteks ini, bahwa kita telah berada pada level kelekatan akan harta kefanaan itu.
Sebuah Pesan Arif
“Praaak,” terdengar bunyi keras, bahwa ada benda yang terjatuh ke lantai di sebuah pendopo rumah mewah. Tampak di sana, beberapa pecahan vas bunga kristal terserak di lantai marmer putih itu.
Tak disengaja tangan si Bungsu menyenggol vas bunga kesayangan Bunda. Kini vas bunga itu hancur berantakan di lantai marmer.
Si Bungsu gementar dan pucat pasi. Si Sulung langsung bertubi-tubi memarahinya. Bahkan tak kalah cemas, si ART, karena takut dirinya yang akan dituduh.
Kini terdengar suara klakson mobil memasuki pekarangan rumah. Sang Bunda lalu berjalan menuju pendopo rumah.
Tatkala pintu rumah dibuka, tampak si Bungsu sudah menelungkupkan diri di kaki Bunda. Seketika itu juga dengan semangat berapi-api si Sulung membeberkan alasan, mengapa vas bunga kesayangan itu pecah.
Namun, apa yang kini terjadi? Dengan wajah tenang, walau tersirat rasa kecewa, Bunda itu berujar, “Anak-anakku berdua, biarlah vas bunga indah ini pecah berantakan. Hati Bunda ikhlas (Kini, sambil menatap wajah kedua putrinya). Saya malah bersyukur. Mengapa? Karena biarlah hatiku tidak lagi melekat dan terikat padanya.”
Kini, sambil saling berangkulan, ketiganya tampak ikhlas dan riang.
Apa yang terjadi justru sungguh di luar dugaan. Karena Bunda itu ternyata merasa sangat bersyukur atas pecahnya harta duniawi itu. Dia bahkan marasa dibebaskan dari belenggu keterikatan.
Sadar sebelum Terlambat
“Oh, kesalahan yang mendatangkan kebahagiaan,” celetuk sang Arifin. Inilah sebuah didaktika hidup sejati.
Sang Bunda hebat ini ternyata sungguh mulia hatinya. Karena dia mampu menempatkan kemanusiaan di atas segalanya.
Apa artinya sebuah vas bunga cantik, jika dibandingkan dengan nilai luhur kemanusiaan?
Konklusi Arif
Lewat tulisan refleksi ini, kita diajak sadar dan mampu memosisikan diri secara baik, benar, serta tepat dalam mereaksi atas sebuah peristiwa.
Janganlah sekali-kali kita mau mengorbankan nilai-nilai luhur kemanusiaan hanya demi kemelekatan serta keterikatan kita akan harta benda duniawi.
Ingatlah petuah para arifin, bahwa nilai kemanusiaan justru selalu dan tetap berada di atas segalanya.
“Sungguh amat baik, adanya.” Demikian sabda Tuhan setelah manusia diciptakan-Nya.
…
Kediri,ย 9ย Oktoberย 2024

