“Seperkasa-perkasanya seseorang, lebih perkasa dan tangguh itu orang yang mengasihi musuhnya.” – Mas Redjo
…
Dengan mengampuni, mengasihi, dan ikhlas mendoakan mereka yang bersalah itu, kita jadi kuat dan tangguh.
Tidak ada alasan dan gunanya kita membalas, benci, dendam, atau bermusuhan. Karena hal itu hanya melukai kita semua dan jadi sumber penyakit.
Adalah anggapan yang keliru dan picik, bahwa memberi maaf, ampun, mengasihi, dan mendoakan mereka yang bersalah itu suatu bukti, kita ini lemah.
Kenyataannya dengan mengasihi mereka yang bersalah itu, kita berpikir waras dan berjiwa sehat. Sehingga kita jadi kuat, tangguh, dan murah hati.
Dengan mengasihi sesama berarti kita berani berdamai dan mengasihi diri sendiri.
Kita mengasihi sesama, karena sadar diri. Bahwa tidak ada seorang pun yang bebas dari berbuat salah dan khilaf.
Sadar diri itu memberi pencerahan pada jiwa ini.
Berbuat salah, tapi tanpa merasa bersalah itu sombong, dan datang dari si jahat.
Berbuat salah, tapi tidak mau minta maaf itu konyol dan jadi beban jiwa yang menyiksa dalam derita.
Berbuat salah, dan berani meminta maaf itu, karena kita berpikir sehat, dan anugerah Tuhan.
Dengan sadar diri, sesungguhnya kita diajak, diajar, dan dituntun untuk mengendalikan diri agar jadi pribadi yang rendah hati.
Selalu mohon bimbingan dan terang Roh Kudus agar kita dapat mengatasi jebakan si jahat.
Jaga pikiran dan hati kita agar tetap sehat serta hidup berkenan bagi Tuhan.
…
Mas Redjo

