“Hidup yang tidak direfleksikan itu tak layak dihidupi.” – Socrates
…
Tiga refleksi iman yang bisa kita renungkan.
Pertama: masa lalu itu bukan untuk disesali dan diratapi; masa depan itu bukan untuk dikhawatirkan dan ditakutkan; dan masa sekarang itu bukan untuk disia-siakan.
Kadang banyak dari kita terpenjara oleh masa lalu penuh penyesalan. Ingat, dunia itu tidak akan berhenti hanya untuk menyembuhkan luka di hati. Waktu tidak pernah berhenti berputar, hanya untuk menghapus air mata dan meringankan beban persoalan. Live one day at the time.
Kedua: Ucapkan terima kasih. Banyak alasan untuk kita bersyukur. Syukur untuk benih iman yang Tuhan taburkan lewat misionaris. Meski penuh derita tetap setia dan bersukacita. Meski medan berat dab nyawa taruhannya, tetap tersenyum. Tidak mengeluh, meski beselimut air mata dan peluh. Sukacita dan syukur menjadikan perjalanan berat menjadi berkat. Membuka pintu berkat dan rezeki. Tidak ada gunanya komplain dan mengeluh, lebih baik bersyukur.
Ketiga: Retap kuat dalam iman. Iman itu membuka jalan untuk meringankan beban. Ingatlah, saat berserah pada Tuhan, Dia turun tangan. Karena percaya, mujizat itu jadi nyata. Tidak ada yang sia-sia bagi kita yang mempunyai iman dan percaya pada-Nya.
“FAITH : Forever Always I Trust Him.”
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

