Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangi.”
(Sutan Sjahrir)
…
Keyakinan Teguh
Sikap dan tindakan pemberani yang berani serta rela untuk meneguk secangkir racun adalah tanda betapa yakinnya ia akan apa yang sedang diperjuangkannya.
Keberanian ala Socrates
Adagium Yunani yang mendasari keteguhan sikap filsuf Socrates adalah “Gnothi Seauton alias Nosce te Ipsum,” (Kenalilah dirimu sendiri). Lewat misteri ini, manusia dengan berani dan jujur akan mengetahui seluruh potensi dirinya.
Demi mengenal dan mengungungkapkan potensi diri, maka Socrates menggunakan metode dialogis, lewat cara bertanya jawab.
Karena baginya kebijaksanaan itu hanya muncul, ketika orang berani untuk bertanya dan merefleksikannya.
Jika orang hanya menerima setumpuk pengetahuan, maka manusia itu tidak akan bertumbuh dalam sikap kritis, namun justru cenderung untuk mengamini saja sebuah kebenaran itu.
Dalam konteks ini, ia sangat getol untuk menggunakan pendekatan dialog demi memancing keberanian orang muda. Bahkan tak jarang ia rela untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang suatu hal. Semua ini demi memancing orang muda itu agar berani untuk berbicara.
Ia pun sangat dikenal lewat moto “Saya tahu, bahwa saya tidak tahu.” Ia juga tegas menolak untuk disebut sebagai bijaksanawan.
Rela Meneguk Racun
Pada zaman itu Socrates sangat dibenci dan ditantang oleh orang-orang Yunani, karena pendekatan pendidikannya dianggap dapat mengguncangkan keyakinan masyarakat kepada para Dewa dan para Imam.
Akibatnya ia ditangkap dan diadili dengan argumen berupa tuduhan, bahwa ia telah merusak kaum muda dan tidak mau percaya lagi kepada para Dewa yang diakui negara.
Di depan pengadilan, mati-matian Socrates membela metode pendekatannya sebagai sebuah cara untuk melawan kebodohan. Tapi sungguh tragis, karena ia akhirnya tetap dihukum mati dengan cara meminum segelas racun.
Hal yang sungguh menarik perhatian di saat itu, ternyata tidak sedikit orang-orang yang mau membelanya untuk menyelamatkan nyawanya. Namun Socrates tetap meminum racun itu sebagai tanda nyata, bahwa dia sungguh yakin dengan yang diperjuangkannya.
Bagaimana Realitas Kita Kini
Mencermati metode pendidikan ala Socrates dan keberaniannya bersikap, apa sejatinya misteri yang terkandung di balik itu?
Mengapa Socrates justru sangat yakin akan kebenaran metode pendekatan pengajarannya yang dianggapnya sebagai sebentuk cara pendobrak kebodohan?
Untuk menjawab pertanyaan kritis filosofis ini, mari kita kembali ke akar proses pendidikan yang kini dipraktikan di negeri kita.
Bagaimana sikon riil pendekatan edukasi di negeri kita? Bukankah kita telah melupakan radiks dari misteri proses sebuah pendidikan sejati?
Kata ‘pendidikan’ yang berakar pada kata ‘educare,’ kelak jadi ‘education,’ justru dibentuk dari dari dua kata: (e) yang berarti ke luar dan (ducere) yang berarti memimpin.
Hal ini dimaksudkan sebagai “proses memimpin orang muda untuk mengeluarkan aneka potensi dari dalam dirinya.” Hal yang telah ditempuh oleh filsuf Socrates pada abad ke-5 SM.
Intisarinya, bahwa lewat proses pendidikan ini, para pembelajar kita diharapkan akan mampu mengeluarkan aneka potensi dari dalam diri mereka.
Mengapa Proses Pendidikan Kita justru Terbelenggu?
Masyarakat kita ternyata telah membelenggu dan membentengi dirinya sendiri dengan berbagai cara. Antara lain: antikritik, antikoreksi, anti terbuka, serta antidialog. Kita pun telah jadi sebuah bangsa yang masyarakatnya bersikap sangat tertutup dan konservatif.
Dampak riilnya, bahwa proses pendidikan kita justru terbelenggu.
Para murid kita terbelenggu dalam tataetika yang kaku dan tertutup.
Proses pendidikan yang bersifat satu arah alias monolog serta โup to downโ menjadikan para murid kita ibarat boneka-boneka manis yang dipajang rapi dan hanya duduk manis.
Guru adalah sumber satu-satunya dan segalanya. Para murid hanya siap untuk mendengar, menulis, menghafal, dan lalu menjawab. Tanpa ada sikap kreativitas.
Di Manakah Keberanian?
Keberanian sejati hanya lahir dari suatu iklim dan proses pendidikan yang memerdekakan para murid. Sikap keberanian hanya dapat bertumbuh di dalam iklim dan suasana pendidikan yang dialogis serta kebebasan sejati.
Maka, kini maklumlah kita, mengapa betapa kokohnya sikap dan pendirian Socrates? Karena ia sungguh yakin akan kebenaran metode pengajarannya.
Refleksi Akhir Kita
Mengapa kini, betapa sulitnya masyarakat kita untuk mengatakan apa yang salah sebagai salah dan apa yang benar sebagai benar!
Katakan ya, jika itu ya! Katakan tidak, jika itu tidak! Karena selebihnya, justru berasal dari si Iblis!
…
Kediri,ย 4ย Oktoberย 2024

