| Red-Joss.com | Bersyukur kami, umat Sanberna, mendapat berkat sekaligus 2 Imam, yang keduanya mempunyai latar belakang pelayanan sebagai misionaris di pedalaman.
Terbayang, umat yang dilayani adalah umat yang sederhana, lugu, polos dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan gembala mereka. Tak sedikit pun terbersit di benak umat yang berniat memikat selain hanya ingin berbakti dan bersyukur.
Gambar umat yang seperti itu yang ingin saya tampilkan dengan istilah ’otentik’. Umat yang beriman secara otentik. Gembala yang lama hidup dengan atmospher otentik umat, niscaya bertumbuh jadi pribadi yang selalu berbaik sangka. Imam itu tidak akan mudah terkécoh oleh tampilan luar, sebab baginya tampilan luar selalu diyakini hanya sebagai upaya terbatas umatnya yang ingin berbakti dan bersyukur sesuai dengan kepribadiannya. Tampilan luar tidak pernah sanggup untuk mewadahi kekayaan pikiran dan hati umatnya.
Terbayang, Gembala yang seperti itu nyaris pasti ditangisi umatnya, ketika dia berpamitan untuk berbakti ke tempat lain. Maka, dalam khotbah pertamanya, salah satu dari dua Imam baru itu mengajak umat untuk membangun komunitas beriman yang otentik, yang berbasiskan berbaik sangka ‘rather than’ berburuk sangka. Hati dan motivasi umat itu sedalam lautan, sehingga tak mungkin dapat diduga hanya dari satu atau dua penampilan mereka. “Don’t judge the book by it’s cover.”
Welcome aboard Pakde.
Salam sehat.
…
Jlitheng

