Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Segala sesuatu yang kita dengar adalah opini, bukan fakta. Segala sesuatu yang kita lihat adalah persepsi, bukan kebenaran.”
(Markus Aurelius)
…
| Red-Joss.com | Tulisan berlatar belakang keilmuan ini, bertolak dari dasar pemikiran filsafati filsuf Romawi, Markus Aurelius.
Mengapa hal ini justru penting bagi kehidupan kita? Karena sering kali terjadi kekacauan dan sikap ambigu (khaostis) di dalam hidup manusia, karena ternyata manusia belum mampu membedakan antara sebuah “persepsi subjektif serta realitas objekti.”
Opini bukanlah Fakta dan Perspektif bukanlah Kebenaran
Sesuatu yang bersifat ‘pendapat atau opini,’ sering kali dipandang sebagai sebuah ‘fakta.’ Juga sesuatu yang bersifat ‘perspektif,’ kita sering memandangnya sebagai ‘kebenaran.’
Padahal di dalamnya, terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Artinya sesuatu yang kita dengar lewat telinga bukanlah sebuah fakta. Sesuatu yang kita lihat lewat mata kepala kita, bukanlah sebuah kebenaran.
Manusia Gampang Terjebak
Mengapa demikian? Markus Aurelius berpendapat, bahwa dalam hidup ini, apa saja yang kita hadapi sering kali diwarnai oleh sikap bias, pengalaman, dan emosi manusia. Di sisi yang lain, manusia itu justru sangat kuat dalam menginterpretasi sesuatu lewat opini dan prespektif. Dalam konteks ini, manusia seringkali terjebak untuk menyalah-artikannya sebagai sebuah kebenaran objektif.
Cerdas, Cermat, dan Berhati-hati
Lewat dasar pertimbangan dan pemikiran filsafati ini, sang filsuf mendidik manusia agar bersikap cerdas, cermat, dan berhati-hati dalam menanggapi serta memaknakan sesuatu.
Dalam konteks ini pula, kepada kita diberikan dasar pertimbangan dan suatu tolok ukur tertentu, agar kita mampu mengendalikan ledakan emosi serta reaksi-reaksi liar kita.
Cogito Ergo Sum!
…
Kediri, 22ย Septemberย 2024

