“To let go if somebody has hurt us.” – Rio, Scj
…
| Red-Joss.com | Kita tidak tahu, berapa lama seseorang bisa hidup bersama kita. Kita tidak tahu, berapa lama orang yang dekat dengan kita itu hidup. Bahkan kita juga tidak tahu, kapan kematian menjemput kita.
Pagi hari masih menyapa dan ngobrol dengan kita, tapi sore hari sudah tak bernyawa. Karena itu, selama masih ada kesempatan gunakan dengan sebaik-baiknya.
Tidak mudah memang untuk mengampuni itu. Sulit memang untuk memaafkan itu. Meski sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Maafkan dan ampunilah, karena di situlah tampak kualitas hidup kita. Tuhan senantiasa menerima, mengampuni orang berdosa yang datang kepada-Nya termasuk kita. Mengapa kita berat dan sulit untuk mengampuni?
Pengampunan itu mengubah, pengampunan itu memperbaharui, dan pengampunan itu menyucikan. Ampunilah, maka kamu akan di ampuni.
Luka itu memang meninggalkan bekas. Jadikan bekas luka itu sebagai mozaik indah di mana kita ikut ambil bagian dalam kerahiman Tuhan. Saat disakiti, difitnah, dihina, dimusuhi … jelas itu tidak enak dan menyakitkan. Tapi larut dalam kesedihan dan rasa sakit membuat luka itu tidak kunjung sembuh. Terimalah dan sebuhkan dengan mengampuni dan melaluinya dengan sesuatu yang lebih bermakna. Kita jangan hanya satu, dua, dan tiga kali mengampuni, karena Tuhan bilang agar kita mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh.
Dalam hidup ini kita tidak hanya berharap, tapi mempunyai keberanian untuk memulai dan aksi. Berani juga untuk memberikan maaf dan mengampuni. Bahkan Tuhan sendiri meminta: “Ampunilah, berdoalah dan berdamailah kepada orang yang memusuhi dan membenci kita.”
Ingatlah “saat kita meminta maaf bukan berarti kita yang bersalah. Bahkan sekalipun kita bersalah dan dengan rendah hati untuk meminta maaf, maka akan membawa sukacita dan kebahagiaan dalam hati, bagi Tuhan dan sesama. Itulah kasih sejati. Yang membalas kejahatan dengan kebaikan dan mencintai seperti Tuhan mengasihi kita.
Deo gratias.
..
Edo/Rio, Scj

