“Kesiap-sediaan hati untuk kembali ke Sang Pencipta itu harus dihidupi agar perjalanan hidup kita makin semarak dan bermakna.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Seorang teman bertanya kepada saya, “Apakah Anda takut mati?”
Saya diam, tidak tersinggung. Tapi tidak segera menjawabnya. Saya tersenyum, sehingga membuatnya jadi salah tingkah.
Bagi orang lain, pertanyaan teman itu bisa dibilang kasar dan ‘ngalup’, berharap cepat mati. Melukai hati dan sensitif. Padahal sesungguhnya pertanyaan itu harus disikapi bijak. Cepat atau lambat, kita harus berpulang kepada Sang Pencipta. Tapi kita tidak tahu hari dan jamnya saat Tuhan datang (Matius 24: 42-44). Kita diminta untuk selalu bersiap-sedia dan berjaga-jaga.
“Kau sendiri, bagaimana? Belum siap, takut, atau nanti dulu. Karena anak masih kecil,” gurau saya yang membuat dia makin salah tingkah.
Bersiap-sediakah kita dan berjaga-jaga?
Ketakutan yang berlebihan itu bukti kita lemah iman. Kita lupa dengan janji setia Tuhan yang menyertai kita hingga akhir zaman (Matius 28: 20).
Selain itu, cepat atau lambat waktu Tuhan itu pasti datang. Kita tidak bisa menunda dan memilih waktu kematian itu. Tapi yang diminta-Nya adalah kesiapan hati kita.
Lebih bijak, jika kita berserah ikhlas pada kehendak Tuhan. Berserah itu tidak identik berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa selama masa penantian itu. Tapi agar kita maknai hidup ini untuk saling mengasihi.
Caranya, kita membangun intimasi dengan Tuhan dan menghidupinya dengan perbuatan baik dan amal kasih.
Dengan mengasihi sesama, kita mengasihi Tuhan!
…
Mas Redjo

