Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ketika daun-daun jatuh tak seorang pun yang meratapinya.”
(Anonim)
…
| Red-Joss.com | Seorang Ibu membawa putra kecilnya ke sebuah taman impian, taman bermain yang dikhususkan untuk anak kecil.
Anak dan Sehelai Daun
Betapa bergairah dan bersemangat si kecil itu berada di taman. Di saat dia mulai gontai berlangkah, dilihatnya sehelai daun jatuh terkulai di tanah.
Ia menghentikan langkahnya. Diamatinya daun itu, lalu dengan ujung jemari mungilnya daun itu dipungutnya untuk ditunjukkan kepada sang Ibu.
“Ibu, ini ada daun jatuh. Saya sedih dan kasihan melihatnya. Bisakah Ibu menancapkan kembali daun ini di tempatnya?”
Ibu itu terharu. Sambil menatap tulus bola mata si kecil, ia berkata, “Nak, betapa mulia hatimu. Di mana kau memungutnya?”
Sambil memegang erat jemari sang Ibu, ia segera menunjukkan tempat daun itu dipungutnya.
Dengan membungkukan tubuhnya, Ibu itu lalu mengecup pipi putranya sambil berujar, “Nak, daun ini telah jatuh dan gugur ke bumi. Ibu tidak sanggup menancapkan kembali pada tempatnya.”
“Aku sedih dan kasihan padanya. Bukankah dia tidak berdaya, dan bahkan sendirian?”
“Ya, kamu benar, Nak. Memang dia sendirian dan tidak berdaya. Tapi, ingatlah Nak, semua daun yang telah jatuh memang seperti itu nasibnya.”
Makna Sehelai Daun Jatuh dalam Hidup Kita
Anda dan saya baru saja mengikuti alur sebuah pemikiran serta dialog interisan antara anak kecil dengan Ibunya tentang sehelai daun jatuh.
Dialog ini berlangsung justru setelah anak mungil itu membawa sehelai daun yang jatuh itu kepada Ibunya.
Kini kita diajak untuk sadar dan merenung. Bahwa sesungguhnya, betapa luas, jauh, dan dalamnya hati nurani seorang anak kecil.
Betapa luas dan mendalam permenungannya tentang sehelai daun itu. Kini kita mulai belajar lagi untuk memahami, bahwa ternyata betapa luasnya hati seorang anak kecil. Bahkan dapat seluas dan sedalam samudra biru.
Anak kecil ini justru sanggup membawa kita, orangtua dan kaum dewasa untuk berani bersikap setulus, sepolos, dan seikhlas hati seorang anak kecil.
Bahasa dan Kerinduan si Kecil adalah Kerinduan Para Malaikat
Kini saya teringat sepenggal tuturan Sang Guru Agung, Yesus Kristus, “Jadilah seperti seorang anak kecil ini. Karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.”
Lewat kepolosan anak-anak kecil dan sikap transparannya itu mampu mendidik kita para orang dewasa untuk bersikap polos, tulus, dan jujur seperti mereka.
Belajar dari Anak Kecil
Di balik kisah anak kecil dengan sehelai daun jatuh, kita diajak untuk kembali belajar tentang makna sejati dari kehidupan ini.
Sehelai daun malang yang terjatuh itu adalah kau, aku, dan kita yang malang melintang di dalam jagad hidup nan keras dan kersang ini.
Maka, jadilah seorang Ibu dan Ayah yang arif bijaksana bagi sang buah hati!
Semoga kita rela mendengarkan ocehan kecilnya itu dan bersedia jadi seorang murid dari seorang anak kecil!
Kediri, 19 September 2024

