“When you forgive, you don’t change the past but change the future.” – Rio, Scj
…
| Red-Joss.com | Bagi yang mencitai kebahagiaan, kasih dan damai, memberikan maaf itu mudah. Tapi bagi yang suka menyalahkan dan pendendam, memberi maaf itu hal mustahil. Bagi yang mencintai penderitaan dan kesedihan, maaf itu sulit diberikan. Sebenarnya sederhana untuk hidup bahagia itu, yaitu murah hati untuk memaafkan. Sebaliknya hidup ini akan penuh beban dan derita, bila kita sulit memaafkan.
Memaafkan tidak berarti kita setuju pada tindakan yang menyakitkan itu atau membenarkannya. Kita rela memaafkan itu tidak berarti menghapus dan merubah masa lalu. Memaafkan berarti mencintai masa kini, tanpa bayang-bayang masa lalu dan perubahan untuk masa depan yang cerah dalam kasih Tuhan.
Meminta maaf itu pilihan, memberi maaf itu keputusan. Ingat satu pilihan membawa perubahan, satu keputusan menentukan masa depan. Pilihan untuk meminta maaf tentunya ada dalam proses kesadaran, penerimaan, dan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan komitmen untuk bertobat. Sementara keputusan untuk memaafkan itu merupakan tindakan kasih guna merangkul, memperbaiki, dan memberi kesempatan orang lain untuk merasakan kasih, damai dan kebahagiaan hidup.
Kebaikan itu butuh perjuangan dan proses. Meski hal itu sulit, susah, dan tidak mudah itu bukan berarti tidak mungkin. Semua itu bisa, bila ada kehendak kuat untuk berproses dan belajar. Bukankah kita sering mendapatkan maaf. Jika bukan dari sesama, paling tidak yang pasti itu dari Tuhan. Coba, jika Tuhan tidak mengampuni, memafkan, dan mengasihi kita. Apa jadinya, jika kita tidak diberi kesempatan Tuhan?
Itulah kerahiman-Nya.
Tuhan tidak seperti kita yang memberi maaf… satu kali, dua kali itu oke. Tapi tiga kali itu tiada maaf! Tuhan memberi ampunan dan kesempatan pada kita itu tidak cuma satu, dua, tiga kali, tapi jutaan kali bahkan tidak terbatas memberi ampunan pada kita. Karena Tuhan Maha Rahim.
Jika kita sungguh beriman pada Tuhan. Maukah kita belajar dari Tuhan soal mengampuni, memberi maaf, dan murah hati?
Luaskan hati kita untuk mengampuni dan memberi maaf. Dengan bersikap murah hati untuk memaafkan itu tidak berarti murahan. Tapi makin luas pula ruang hati kita untuk sesama. Makin sulit untuk mengampuni, kian sempit ruang hati kita untuk sesama.
Ingat Tuhan tidak pernah menolak orang bedosa yang bertobat, tapi Tuhan menolak dan membenci dosa. Manusianya tidak Tuhan tolak, tapi yang IA tolak itu dosanya.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

