Fr. M. Christoforus, BHK
“Teguklah untuk terakhir kalinya, walau setitik air saja.”
(Didaktika Hidup Setia)
…
| Red-Joss.com | Tulisan kenangan ini bertolak dari sebuah kisah seorang Kakek yang sangat renta dan hampir dua puluh tahun hanya tergolek di ranjang sakit sebagai dampak usia tua dan selebihnya, karena memendam rasa kecewa atas kepahitan hidup ini.
Sakit Fisik pun Mental
Di saat seorang Perawat yang tulus mengulurkan segelas air lewat tangan dan jemari kasihnya kepada seorang Kakek renta yang tampak bermuram durja.
Dengan tangan lemah Kakek itu mengisyaratkan, bahwa dirinya tidak membutuhkan apa-apa lagi. Rupanya dia sudah bahagia bergolek dan bergeletak di atas seprei kumal ini.
Di sudut mata rentanya itu tampak beberapa butir tetes air mata bergulir di pipinya yang keriput. Di sana ada sekeping hati renta yang sedang bergulat sepi, meronta tak tahu arah dan tak dipahami siapa pun.
Dia rupanya sangat kecewa dan marah pada alur waktu nan panjang merentang sepanjang hidupnya.
Sakit Hati Ditinggalkan Buah Hati
Perawat setia itu dengan cermat mengamati perilaku sang Kakek. Di sana, di balik lubuk hati mudanya perawat itu turut bergulat secara nurani.
Ternyata Kakek itu sedang memendam rasa rindu dan harapan yang tak berujung pangkal. Dia sungguh merindukan putra semata wayangnya yang seolah-olah sudah melupakannya.
Dialog dari Rindu tak Berujung
“Kakek, apa yang meresahkan hatimu?” tanya perawat itu.
“Aku sudah letih untuk merindukan anakku yang semata wayang itu. Tapi, aku tak tahu, kini entah di mana dia berada.”
“Oh ya, baik Kek. Aku mencoba berusaha untuk mengabarinya.”
Dengan lengan lemah Kakek itu mengisyaratkan, bahwa kini dirinya tidak membutuhkan apa-apa dan siapa pun lagi.
Ternyata, kini, dia sudah tak berharap dan mau merindu lagi. Rupanya dia sedang berjuang dan berusaha untuk melupakan semua realitas adegan hidup ini termasuk melupakan kenangan pada putra semata wayangnya itu.
Kini, terdengar sayup pilu dan lemah dari bibir itu, “Aku pikir, ranjang ini adalah segalanya bagi masa tuaku. Aku juga sudah tidak butuh apa-apa lagi.”
Hanya Setetes Air Terakhir
Seulur lengan nan setia itu terus terulur. Makin dekat dan kian merindu.
Tapi Kakek itu konsisten pada nazar tulusnya, bahwa sesungguhnya, dia tidak membutuhkan apa-apa lagi. Semua sudah cukup baginya yang tergolek lemah hampir dua puluhan tahun di atas kasur kumal ini.
Di saat bibir gelas membisu itu menyentuh bibir duka merindu itu, tampak perlahan namun pasti, setetes air sempat membasahi bibir yang kering itu.
Dengan wajah kuyu yang dihiasi seulas senyum dipaksakan, perlahan dikatupkannya kedua lengan lemahnya itu ke atas dada hampanya sambil berbisik, “Putraku, di manakah engkau berada?”
Sudah Cukup
Sedetak waktu paling haru melintas dalam rindu tak menentu. Kakek tenta itu perlahan menarik nafas panjang dan dalam keluh berbisik, “Sudah cukup!”
Itulah pergulatan manusia nan misterius itu ternyata tidak ada apa-apanya di kala dihampiri kehampaan.
“Putraku, di manakah engkau berada?”
Inilah sekeping tanya yang paling menyayat di kala sang kelepak cinta menghindar sirna entah ke mana dan di mana!
“Oh, Sang Maha Cinta, sungguh hatiku sangat rindu untuk sampai kepada-Mu!”
(Santo Agustinus)
…
Kediri, 18ย Septemberย 2024

