“Dalam dialog imajiner dengan Tuhan, saya minta persekot rezeki sebagai tanda jadi. Karena saya ingin bersaksi untuk jadi saluran berkat-Nya.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Tuhan tersenyum bijak, membuat saya jadi salah tingkah memaknai senyum-Nya itu.
Sebagaimana pemborong proyek, jika rencana kerja itu disetujui, uang persekot, de-pe, atau panjar itu langsung cair.
Begitu pula saya. Pelanggan baru yang pesan barang khusus, saya mintai de-pe sebagai tanda jadi. Saya tidak mau ‘keblondrok’, jika barang pesanan yang jadi itu tidak diambil oleh pelanggan, sehingga rugi.
Faktanya, pelanggan baru saya adalah Tuhan yang meminta saya untuk berbuat baik dan amal kasih. Dari pedagang untuk jadi pekerja di ladang kasih-Nya.
Dari usaha yang berorientasi pada keuntungan semata, materi pindah ke spiritual.
Pertanyaannya adalah, apa saya bisa, sanggup, dan bagaimana dengan usaha dagang saya?
Saya ragu-seragunya. Tapi berjanji itu adalah kepastian yang pantang untuk ditelan kembali. Kepercayaan itu komitmen yang harus dibangun dan dihidupi agar makin mengakar kuat.
Teristimewa dengan Tuhan yang telah menyentuh dan memilih saya. Apa saya harus minta de-pe, dan mengapa saya tidak percaya?
Saya malu-semalunya. Peristiwa masa lalu berloncatan dan saling berkaitan jadi film kehidupan saya yang luar biasa dan indah. Mukjizat Tuhan nan ajaib mengubah hidup saya dan keluarga. Anugerah-Nya bagai mimpi dan tidak bisa diurai dengan nalar.
Kini, ketika di puncak keberhasilan, Tuhan mengingatkan saya lewat pengalaman anak tunggal teman yang miliki banyak perusahaan itu memilih untuk hidup membiara.
“Sehebat-hebatnya seseorang, hanya yang berguna bagi sesama itu yang tercatat untuk selamanya. Selebihnya hanya aksesoris.”
Inti dari pernyataan teman, bahwa harta benda itu aksesoris, tapi perbuatan baik dan amal kasih itu keutamaan yang membuat hidup ini bermakna.
Tiba-tiba persendian tubuh saya seperti dilolosi, sehingga saya bersimpuh sujud di ruang doa di kamar khusus.
Mata saya tertuju pada salib di atas meja altar. Saya merasa hati ini seperti tertikam tombak. Karena Tuhan Yesus telah menyelamatkan hidup saya. Tapi saya berhitung dagang dengan Tuhan.
Tak kuasa, saya jadi sesenggukan didera oleh penyesalan yang amat sangat.
“Gusti nyuwun kawelasan.”
…
Mas Redjo

