Simbol garam dan pelita adalah undangan jiwa untuk terus berguna. ‘Urip iku urup’.
“Duh Gusti Yesus, Juru Wilujeng yang memiliki kesempurnaan kekal, terimalah persembahan pelita ini, yang kami haturkan dengan kerendahan hati sebagai simbol ajaran-Mu yang menerangi batin kami.”
Demikianlah ungkapan hati tetua umat saat menyalakan ‘sentir’, tanda diawalinya ruang doa (bukan kapel) untuk pertemuan rutin beberapa keluarga di salah satu stasi yang jauh dari pusat Gereja.(cacatan kecil Kuliah Kerja Nyata 1975 – di Metro Lamteng).
Cara umat sederhana untuk memelihara pelita jiwa agar tetap urup (bernyala). Ketika saya bertanya: “Koq ndadak nganggo sentir?”
“Lha ten nggrejo niko rak nggih onten sentir urup,” jawabnya. Ada lampu terus bernyala.
Falsafah Jawa ‘urip iku urup’ mendorong kita untuk hidup yang bermanfaat bagi sesama. Kata ‘urip iku urup’ itu sesuai dengan ajaran Guru Ilahi. Kita untuk tak henti jadi ‘terang dunia’.
Salam sehat dan tetaplah bermakna.
…
Jlitheng

