Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Apa makna batu dalam hidup dan karyaku? Berapa jumlah batuku?”
(Filosofi Hidup Sadar)
…
Hidup yang sungguh bermakna adalah proses hidup yang didasari oleh kesadaran untuk memberikan makna dan arti bagi kehidupan itu sendiri.
Hidup yang Direfleksikan
Dalam konteks ini berarti, bahwa manusia individu itu harus mampu untuk menyadari akan makna perjuangannya. Jadi, untuk mencapai tujuan itu, manusia itu perlu merefleksikan, apa makna sejati dan arti penting dari proses hidupnya.
Menghitung Batu
Hidup ini bagaikan tukang bangunan yang setia dan tekun menghitung batu-batu demi merampungkan bangunan hidupnya.
Apa makna batu dalam konteks ini? Batu alias bebatuan adalah setiap tantangan dan rintangan hidup yang menghambat lajunya program pembangunan hidup manusia.
Aneka Batu dan Sumber Asalnya
Setiap pribadi tentu memiliki jumlah batu yang beraneka. Artinya setiap pribadi memiliki tingkat dan jumlah hambatan hidup yang sangat bervariasi. Hal ini tentu didasari oleh keberadaan dan kualitas hidup seseorang.
Selain itu, ada jenis batu yang berasal dari sikon hidup ini dan juga ada batu yang bersumber dari eksternal diri ini. Namun, semua itu dapat berdampak bagi laju pembangunan hidup kita.
(1) Ada batu kemalasan dan sikap masa bodoh. Inilah bebatuan yang bersumber dari dalam diri sendiri. Kemalasan dan sikap masa bodoh yang jadi bawaan serta bercokol di dalam diri kita.
“Malas adalah bantal iblis,” demikian sebuah perumpamaan. Jika kita malas dan bersikap masa bodoh, maka kita akan mandeg dan statis. Kita tidak mampu untuk bertumbuh dan berkembang.
“Batu iri hati dan sikap cemburu.” Inilah bebatuan yang selain bersumber dari sendiri, tapi juga dari luar.
Iri hati dan cemburu adalah penyakit kronis jiwa manusia yang sanggup mengerdilkan dan bahkan mampu memandulkan hidup manusia.
Juga ada “batu kepicikan dan sikap ketertutupan.” Inilah jenis bebatuan yang terutama bersumber dari dalam diri sendiri. Segala sesuatu diukur hanya sebatas kesadaran diri. Sehingga kita bersikap sangat picik laksana katak di bawah tempurung. Bagi kita semua hal yang baru itu adalah musuh bebuyutan.
Berdasarkan sejumlah batu hidup ini, baik yang bersumber dari dalam diri dan yang bersumber dari eksternal, semuanya itu sangat berdampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan program hidup kita.
Mari kita tekun dan setia menghitung batu-batu tantangan hidup, berusaha untuk menyadarinya, berupaya untuk ke luar dari lilitannya, dan berani untuk bersikap.
Hanya Kita yang Mampu Mengatasinya!
Ingat, bahwa hanya kita sendiri pihak yang paling berkompeten untuk meremukkan dan menggilas moncong culas dari aneka bebatuan dan tantangan hidup ini.
Kita ini bukan siapa-siapa!
Kita bisa, karena kita berani!
…
Kediri, 16ย Septemberย 2024

