“Mengeluh itu tidak menyelesaikan masalah. Lebih bijak kita bertukar pikiran mencari solusi untuk ke luar dari krisis.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Semua sektor usaha melambat dan daya beli masyarakat melemah itu realita yang harus disiasati agar usaha tidak drop, dan terpuruk.
Bersyukur itu penting. Jauh lebih penting, jika kita berani menerima kenyataan pahit itu untuk mencari hikmatnya. Berefleksi. Tujuannya agar kita ke luar dari krisis, dan eksis.
Jujur, saya tidak percaya. Ketika teman, HJ yang agen sembako itu cerita, omset penjualannya anjlog hampir 50%!
Separah itu? Krisis ekonomi dunia dampaknya luar biasa bagi sektor usaha. Meski usaha terus nenurun sejak pandemi, tapi tidak separah sekarang.
Jika toko sembako HJ itu menurun drastis, karena banyak pabrik atau distributor bahan makanan yang membuka departemen pemasaran untuk memangkas jalur peragenan. Karena harganya lebih miring, dan agen kalah bersaing. Omset pabrik atau distributor agar stabil.
Juga banyak pemain perorangan yang menjual produk lewat toko online dengan harga murah. Selain biaya operasional minim, transaksi mudah, dan hemat waktu.
Saya beruntung, meski penjualan menurun, tapi tidak separah HJ. Karena saya menerapkan hilirisasi usaha untuk saling menguatkan divisi.
Saya juga membangun jaringan hubungan dengan relasi secara baik. Intens bersilaturahmi dengan hati. Tidak sekadar kunjungan, tapi, juga mengadakan arisan dengan pelanggan, memberi poin hadiah, dan berwisata setiap akhir tahun.
Saya tidak tertarik menjual produk secara online, karena potongannya besar, bahkan konon admin hendak menaikkan potongan jadi 15%.
“Ketimbang keuntungan itu diberikan ke orang lain, lebih baik dikembalikan ke pelanggan. Meski keuntungan jadi kecil, tapi yang penting pelanggan senang, dan hubungan bisnis memanjang,” itu prinsip saya.
“Kita harus beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi agar tidak tergilas zaman. Beradaptasi dengan hati,” pengalaman bisnis itu yang saya bagikan pada HJ. Semoga usahanya segera pulih kembali.
…
Mas Redjo

