Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Antara Dua Mata Pedang
“Musuh bebuyutanmu ganas membabatmu dengan tajam mata pedang kuasanya, namun Sang Kuasa Kasih telah memohonmu untuk menyarungkan mata pedang balasan.”
(Pada Sepotong Catatan)
…
Filsafat Yin – Yang
Di dunia ini selalu ada dan terdapat dua buah sisi kehidupan. Antara sisi di sebelah kiri dan sebelah kanan. Antara warna hitam dan putih. Antara sifat baik dan buruk, juga antara siang dan malam.
Ya, di antara “yin dan yang” di dalam filsafat China. Itulah sekeping mata uang koin dari realitas kehidupan.
Antara Dua Mata Pedang
Adalah sebuah realitas, bahwa kehidupan ini selalu menampilkan kedua sisi dari kehidupan.
Di atas pentas realitas kehidupan ini, kita berhadapan dengan sebuah kenyataan, bahwa adanya suatu pertentangan, perbedaan, dan bahkan perlawanan di dalam nuansa perbedaan.
Mata Pedang Kasih dan Mata Pedang Kebencian
Jika kita cermat dan cerdas membaca fenomena serta tanda-tanda zaman, bahwa sejatinya terdapat dua buah kekuatan yang nyaris bertentangan.
Riil pula, bahwa apa pun tindakan atau kesaksian yang kita taburkan di atas bumi maya ini pasti melahirkan pula sikap antara pro dan kontra.
Hal ini sesuai dengan irama hukum kehidupan, bahwa jika ada aksi, maka ada pula reaksi. Apakah itu aksi dan reaksi yang bersifat positif atau yang bersifat negatif.
Suatu tindakan atau aksi, baik yang bersifat kemanusiaan yang kita taburkan, maka akan segera direaksi pula, baik secara positif atau negatif.
Orang-orang segera bereaksi sesuai dengan pandangan, persepsi, keyakinan, ideologi, atau sikap hidupnya. Salahkan itu? Itulah yang kita namakan sebagai sebuah perbedaan.
Adanya sebuah perbedaan dalam konteks dan latar belakang apa pun adalah sebuah kelumrahan serta kewajaran hidup.
Namun, jika reaksi serta ekspresi atas perbedaan itu disikapi secara ekstrem dan membabibuta, itulah yang disebut sebagai ekstremis, intoleran, serta fanatisme buta.
Tindakan Kasih
Jika musuhmu membabat dengan mata pedang kebencian, maka bereaksilah dengan kelembutan. Artinya Anda tidak bersikap untuk melawan dan membalasnya.
Jika musuhmu menghina dan menjauhimu, maka berikan senyum, karena kamu memahami kepicikan sikap musuhmu.
Jika Anda telah bereaksi dengan kesabaran, kelembutan, dan pemahaman yang mendalam, maka Anda telah mempraktikan esensi dasar dari ajaran serta tindakan kasih itu.
Itulah sebuah kebesaran dan kedewasaan dari keyakinan serta jati diri Anda. Itulah sebentuk kedewasaan hidup bermasyarakat.
Bukankah esensi dasar dari
cinta itu adalah sikap lemah lembut, sabar, dan sederhana?
Deus Caritas est!
…
Kediri, 12ย Septemberย 2024

