Erry Amanda
…
| Red-Joss.com | Carl Sagan tokoh yang berharap seluruh masyarakat dunia belajar Fisika.
Masih ingat artikel pengantar awal-awal ‘kajian tritisan’ yang mengulas sedikit tokoh sains yang Astronom ini.
Saat itu saya mengutip seditik pernyataan Sagan sebagai Astronom yang telah menjelajahi ruang angkasa sampai ‘lapis ke 10’ dan dengan tegas dia menyatakan, bahwa di lapis 10 tidak menemukan ‘jejak Tuhan’
Sagan hanya menyampaikan kekagumannya tentang lapisan-lapisan Jagat Raya (bukan lapisan langit yang kita fahami selama ini).
Di samping itu Sagan juga menjelaskan, bahwa di atas lapisan ke 10 masih terdapat gugusan bintang milyaran tahun cahaya, “keindahannya sulit digambarkan. Entah siapa yang bikin,” jelas Sagan. Muncul pertanyaan, Sagan menolak Tuhan namun ungkapannya menyebut personal / siapa, bukan apa.
Terlepas dia kepleset lidah atau sengaja dengan segenap kesadarannya, mari sejenak kita renungkan soal ‘jejak Tuhan’ yang dipakai sadaran kebenaran Sagan, bahwa Tuhan itu tidak ada.
Apa yang ingin saya sampaikan ini bukan hanya para Agnostik, namun juga bagi mereka yang meyakini adanya Tuhan.
Di jagad kasat yang kita diami ini ada yang bisa kita lihat secara empiris, kasat mata, dan tanpa kita sadari ada yang tak bisa kital lihat secara kasat. Udara, misalnya. Besar udara, atau suatu materi yang tak kasat dengan besarnya (misal) 0,001 mili micron, masih terdapat jasad renik, partikel. Ada Proton, neutron, electron, pasetron, dan lain-lain hingga ‘anti materi’.
Itu baru hasil ciptaan-Nya, lantas bagaimana besar Sang Pencipta. 0,00000000 pangkat “n” alias muskil bisa dilihat. Kemudian besaran Univers, jagad raya. Gugus bintang yang hingga kini tidak jelas berapa jumlah bintang di setiap gugusnya, yang sementara cahaya bintang yang kita lihat adalah cahaya milyaran tahun cahaya. Bisa membayangkan luas dan besarnya jagad raya. Itu juga baru ciptaan-Nya. Lantas bagaimana dengan besar Sang Pencipta?
Apakah Tuhan juga berdiam di tempat yang Dia ciptakan (di Jagad Raya) ini?
Jika jawabnya iya, sungguh jawaban lucu. Seolah sebelum Jagad Raya diciptakan, Tuhan melayang di mana-mana, kemudian Dia menciptakan mukiman setara Jagad Raya selesai dibangun. Lucu kan. Maka, jika ingin mencari ‘jejak Tuhan’ di mana tempat Tuhan. Jika dicari di ruang ciptaan-Nya bernama ‘Antariksa’, ya mana mungkinlah.
Catatan:
Carl Sagan meninggal 10 Desember 1999 usia 62th.
…
Bandung, 11 September 2024

