| Red-Joss.com | Ketika pagi tadi saya mau ke Gereja untuk mengikuti misa harian, di ujung gang bertemu tetangga yang sedang membersihkan halaman rumah.
Sambi melambatkan kendaraan, karena di ujung jalan, kusapa dia dengan kata: “Rajin” (sambil mengklakson). Dia menoleh. Saya jalan terus.
“Disapa koq diam, apa nggak dengar ya…,” gumanku.
“Gimana sih… dia menjawab, ‘nggih Pak, atos-atos’.”
Saya mengira orang itu tidak mendengar, atau mengabaikan saya, ternyata saya yang tidak mendengar.
Mengira atau menduga orang lain tidak paham tentang agama atau firman Tuhan itu dapat mendorong seorang bicara banyak hal itu, tapi hambar. Sebaliknya orang yang tahu tentang firman itu merasa tidak mampu mengatakan, karena merasa belum layak.
Memang, sesungguhnya tidak ada satu pun dari kita yang rapuh ini yang sungguh tahu tentang firman Tuhan yang Ilahi. Satu-satunya jalan adalah… membiarkan Dia menyempurnakan yang tidak sempurna itu.
Salam sehat dan bahagia.
…
Jlitheng

