Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Nasi sudah menjadi bubur.”
(Peribahasa Bangsa)
…
| Red-Joss.com | Kata orang-orang, bahwa sungguh, betapa sakitnya manusia di saat merasa dirinya memang benar-benar bersalah.
Sudah Telanjur Terjadi
“Nasi sudah menjadi bubur,” kata sang bijak. Artinya, bahwa bubur itu tidak pernah akan kembali berubah jadi nasi lagi. Itu sudah telanjur terjadi dan tak ada gunanya lagi untuk diratapi.
Hidup kita sesungguhnya penuh risiko. Anda dan saya seolah-olah hanya memiliki dua buah alternatif pilihan. Itulah sebuah realitas hidup.
Apakah Anda berada dalam posisi yang benar atau salah? Karena nyata, memang tidak ada alternatif pilihan yang berwarna dan bernama abu-abu.
Sakitnya, Ketika Bersalah
Benar atau salah adalah dua kenyataan hidup yang sangat sering dialami manusia. Sehingga ada pepatah menggambarkan, bahwa hidup ini ibarat gerakan sebuah roda pedati. Artinya keadaan seorang yang kadang berada di posisi atas dan kadang juga berada di posisi bawah.
Hal yang terasa sangat pahit ialah, ketika seorang sungguh menyadari, bahwa dirinya benar-benar bersalah.
Dalam kondisi merasa sangat bersalah secara mental psikologis orang merasa sangat malu dan tak berdaya. Bahkan hingga dia merasa, bahwa dirinya sudah tak ada gunanya lagi. Dalam kondisi ini, tidak jarang seorang nekad mengambil sikap untuk mengakhiri hidup ini lewat berbagai cara.
Dalam kondisi merana dan sikap batin tidak percaya diri lagi, tentu dia membutuhkan sikap penerimaan, pemaafan, dan peneguhan dari sesamanya.
Maka, orang yang bersalah itu perlu dirangkul dan diteguhkan hatinya lewat sikap penerimaan yang jujur dan tulus dari sesamanya.
Dari sikap menerima, memaafkan, dan meneguhkan itu, maka semangatnya akan bangkit dan perasaan diterima serta diakui eksistensi kemanusiaannya.
Maka, orang yang merasa bersalah perlahan akan kembali menyadari, bahwa dirinya bukan seperti seonggok sampah, tapi tetap sebagai seorang manusia yang telah dimaafkan kesalahannya.
Lewat refleksi ini, semoga kita tidak mengadili sesama yang bersalah, tapi tetap mau menerima dan memaafkan kesalahannya dengan tulus ikhlas.
Bukankah, bahwa hidup kita senantiasa dihiasi oleh kenyataan antara benar dan salah?
Sungguh, tidak ada gading yang tak retak!
…
Kediri, 11ย Septemberย 2024

