Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sekarang taman Anda barulah benar-benar sempurna.”
(Didaktika Hidup Sejati)
…
| Red-Joss.com | Manusia memiliki kriteria spesifik tentang suatu keindahan, keunggulan, atau suatu prestasi dalam bidang apa pun.
Apa kata orang tentang sesuatu itu? Itulah yang akhirnya jadi sebuah patokan umum. Pandangan dan pendapat orang itu akhirnya jadi sebuah kebenaran yang dapat diterima oleh umum.
Taman Kuil Terindah
Tulisan ini berintikan tentang sebuah ‘cara pandang’ berdasarkan penilaian umum, bahwa sebuah taman kuil akan dinyatakan sebagai taman impian yang terkenal keindahannya, hanya berdasarkan pada kriteria, ‘kebersihan dan kerapiannya’.
Seperti lazimnya kuil-kuil di Jepang yang umumnya memiliki taman-taman indah berdasarkan kebersihan dan kerapiannya.
Intip sang Biksu Tua
Dikisahkan, bahwa suatu hari di saat seorang biksu muda sedang sibuk menata dan membersihkan taman kuil, masuklah seorang biksu tua dan mengintip.
Tampak olehnya bagaimana sibuknya biksu muda itu membersihkan taman.
Daun-daun kering dan aneka sampah berserakan dipungut dan dimasukan ke dalam keranjang sampah.
Kini sekilas tampak betapa indah, bersih, dan rapinya taman impian itu. Tak ada lagi dedaunan berserakan atau kotoran yang berada di taman itu.
Perjumpaan di Taman antara Biksu Tua dan Biksu Muda
Kemudian Biksu tua itu melangkah masuk ke dalam taman. Ia tersenyum manis dan pujian itu terlontar dari bibirnya.
“Pekerjaanmu sungguh bagus! Pekerjaanmu luar biasa, Biksu muda! Saya telah mengintip Anda sepanjang pagi ini. Ketekunan Anda layak dipuji setinggi langit. Taman Anda tampak sempurna!”
Seketika itu tampak pucat pasi wajah Biksu muda itu. Dalam sebuah tradisi di Jepang, bahwa Anda jangan segera menelan mentah-mentah pujian dari bibir seorang Biksu tua itu.
“Apa maksud Tuan, bahwa pekerjaanku itu nyaris sempurna?” Biksu muda itu segera menjatuhkan dirinya sambil mencium kaki Biksu tua itu.
Biksu muda yang amat yakin, bahwa kehadiran Biksu itu atas perintah Sang Buddha, maka ia memohon, agar kepadanya diberikan petunjuk, bagaimana seharusnya mengelola sebuah taman yang benar-benar sempurna.
“Apakah Anda benar-benar memohon petunjuk?”
“Oh ya, mohon petunjuk Guru!”
Biksu tua itu lalu merangkulkan lengan-lengan perkasanya ke sebatang pohon persik dan mengguncangkan pohon yang malang itu.
Maka, berhamburan dedaunan, reranting, serta kulit pohon berjatuhan dan berserakan di mana- mana.
Biksu Muda itu Terperanjat
Kini tampak Biksu muda itu sangat terperanjat. Kini taman impiannya itu benar-benar tampak kacau dan berantakan. Sehingga dari dalam hatinya mengalir rasa galau yang tak menentu.
Sedangkan Biksu tua itu dengan wajah dingin melihat sekeliling demi mengagumi hasil karyanya.
Akhirnya, dengan seulas senyum di bibirnya, Biksu tua itu berkata lembut, “Kini, taman Anda barulah benar-benar sempurna.”
(Ajahn Brahm, si Cacing dan Kotorannya)
Refleksi Akhir
Apa yang dapat Anda simpulkan sebagai spirit dari kisah ini?
Apa pula hal yang akan Anda maknakan dalam rentangan waktu dalam ziarah hidup Anda?
Sesungguhnya, manusia sejati yang jujur, tulus, sederhana, dan rendah hati adalah dia yang dapat menampilkan diri seadanya. Apa adanya dan bukan sekadar sebagai hasil polesan seketika.
…
Kediri, 9 September 2024

