Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kami para tukang bangunan selalu membuat kesalahan,” katanya. “Tapi kami bilang kepada pelanggan, bahwa itu adalah โciri unikโ yang tiada duanya.โ
(Filosofi Para Tukang Bangunan)
…
Tulisan reflektif filosofis ini bertolak dari kisah unik ke-108 โCerita Pembuka Pintu Hati.โ
Buku Spiritual Terbaik
Buku karya Ajahn Brahm yang berjudul “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya,” adalah sebuah buku spiritual terbaik dari judul asal “Opening the Door of Your Heart.”
Kisah Para Biksu
Inilah kisah nyata dari perjuangan dan pergulatan para Biksu Budha yang memulai membuka sebuah Wihara (Biara) Budha pada tahun 1983.
Dikisahkan, bahwa betapa sulit dan berkekurangan mereka memulai membangun sebuah Wihara di atas lahan yang mereka beli.
Membangun Tembok
Kami tidak punya uang, dan kami sangat miskin. Kami tidak sanggup untuk membayar tukang bangunan. Maka, kami berniat untuk membangun sendiri Wihara kami.
Sebelum jadi Biksu ternyata dia seorang Guru Fisika teori dan Guru SMA yang memang tidak terbiasa untuk bekerja kasar.
Dua Batu Bata Miring
Di saat saya mulai mencermatinya, ternyata ada โdua buah batu bataโ yang dipasang miring. Kedua bata itu justru sangat merusak pemandangan tembok keseluruhannya.
Saat itu semen sudah mulai mengeras. Saya memohon persetujuan kepala Wihara agar diizinkan untuk merombak kembali tembok itu. Kepala Wihara tidak mengizinkannya. Katanya, “Biarkan saja keadaannya begitu.”
Kesaksian Para Tamu
Setiap kali ada tamu yang berkunjung, saya selalu berusaha untuk menghindari tempat spesial itu. Karena saya tidak mau ada tamu yang melihat bagian yang miring itu.
Pada suatu kesempatan lain, di saat saya membawa tamu, ternyata ada tamu yang melihat keadaan itu.
“Itu tembok yang indah,” komentarnya dengan santai. Sahut saya, “Apakah Bapak tidak membawa kacamata ataukah penglihatan Anda sedang terganggu, bukankah di situ terdapat dua buah batu bata yang miring?”
Sanggup Mengubah Cara Pandang dan Persepsi
Akhirnya setelah hening dan merenung sejenak, saya berkesimpulan, bahwa betapa menukiknya perhatian saya akan hal-hal yang kurang dan jelek itu.
Sang tamu arif itu berkata, “Ya, saya bisa melihat dua batu bata itu memang jelek, namun saya juga bisa melihat pada 998 batu bata lain yang sudah terpasang rapi dan sangat bagus.”
Saya sungguh tertegun akan peristiwa dan kejadian yang tidak disengajakan itu. Ternyata dua buah batu bata yang jelek itu sudah dianggap tak berarti lagi dibanding sebagai besar tembok yang tampak sempurna itu.
Sebuah Pandangan dan Persepsi dapat Berubah
Ternyata setelah dua puluh tahun berikutnya, saya sudah tidak menemukan lagi bagian tembok yang dulu dianggap miring itu.
Amanat Agung Kisah
Ya, kita manusia memang cenderung untuk lebih fokus pada hal-hal atau keadaan yang dianggap kurang baik atau tidak sempurna.
Betapa banyak permasalah hidup yang bertolak dari cara pandang yang selalu miring ini. Orang-orang yang berkeluarga dapat bercerai, dua orang sahabat sejati dapat tercerai berai, jika Anda dan saya hanya terfokus pada hal-hal yang kurang itu.
Itu Milik Kita
Sejatinya, kita semua memiliki ‘kedua batu bata miringโ itu. Keduanya bercokol dan bercengkerema mesra di dalam diri personal kita. Itulah kita. Totalitas kita tidak hanya terdiri dari dua buah batu bata miring, namun juga dari 998 batu bata yang sempurna.
Ternyata itulah yang disebut “ciri unik kita masing-masing.” Justru itulah yang memperkaya hidup dan kepribadian Anda dan saya.
Itulah kita, sang manusia sejati!
…
Kediri, 8ย Septemberย 2024

