Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Setan selalu ada di dalam saku kita. Apakah Anda percaya?”
(Paus Fransiskus)
…
| Red-Joss.com | Sri Paus Fransiskus melawat ke Indonesia sejak tanggal 3 hingga 6 September 2024 ini atas undangan resmi dari Presiden RI Ir. Joko Widodo.
Ada pun makna dari kehadiran beliau mengemban dua misi penting, baik sebagai Kepala Negara Vatikan dan juga sebagai Pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, menunjukkan, bahwa ada relasi yang sangat erat dan harmonis antar kedua negara berdaulat ini.
Moto Kunjungan Paus
Moto utama yang diusung dalam kunjungan Sri Paus Fransiskus ke Indonesia adalah: โIman, Persaudaraan, dan Bela Rasa (Compassion).โ
Bela Rasa (Compassion)
Dalam tulisan ini, saya akan fokuskan pada aspek ketiga, ialah sikap bela rasa alias compassion.
Setan di Dalam Saku
Sri Paus menyinggung dan menggunakan frase “setan di dalam saku,” artinya, bahwa setan itu ternyata selalu berada di dalam saku kehidupan kita.
Hal ini beliau singgung justru di saat bertatap muka dengan para Imam, biarawan-biarawati, dan seminaris di Gereja Katedral Santa Perawan Maria, Jakarta.
Sudah sewajarnya, jika kita perlu mengajukan pertanyaan kritis. Ada pun setan yang dimaksudkan oleh beliau itu setan apa? Juga setan itu berada di dalam saku apa? Apakah di dalam saku baju, seutas jubah, atau saku kekuasaan?
Beliau menyadari, bahwa sifat utama setan adalah doyan memecah belah persaudaraan. Sikap bela rasa itu justru erat berkaitan dengan sikap persaudaraan.
Sri Paus merinci, bahwa sikap bela rasa itu bermakna merangkul mereka yang papa dan menyertakan mereka demi memperluas jaringan cinta kasih Tuhan.
Disinggung pula oleh Sri Paus, bahwa adalah keliru, jika ada orang-orang yang memaknakan sikap bela rasa itu sebagai sebuah kelemahan.
Nyatanya banyak orang telah bersikap antipati pada sikap bela rasa hanya demi melayani kepentingan diri sendiri.
Kerakusan dan sikap egoisme, justru telah memorakporandakan isi dunia ini lewat perpecahan dalam masyarakat kita.
Uang pun dapat Menjadi Setan
Sedangkan Mgr. Paskalis sangat sependapat dengan seruan Sri Paus, bahwa setan memang ada di dalam saku kehidupan kita. Yesus Kristus itu mempersatukan kita, tapi setan justru selalu memecah belah persatuan.
Bagi Mgr. Paskali, uang itu dapat jadi laksana setan, jika orang-orang sudah tak memiliki hati nurani lagi.
Bukankah akar dari segala pertikaian itu adalah cinta mamon?
…
Kediri, 7ย Septemberย 2024

