Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Bahaya utama layar televisi itu tidak terletak pada perilaku yang
ditimbulkannya, melainkan pada perilaku yang dicegahnya, pembicaraan, permainan, aktivitas
keluarga, dan pertengkaran yang jadi tempat berlangsungnya sebagian besar pembelajaran anak dan pembentukan karakternya.
(Urie Bronfenbrenner)
…
| Red-Joss.com | Rabu, 4 September 2024 saat saya asyik mencermati sebuah tulisan dalam harian Kompas, kolom Humaniora, sebuah catatan IPTEK karya Ahmad Arif berjudul, “Anak-anak Butuh Orangtua, Bukan Layar,” nuraniku mendadak memberontak. Saya marah dan menuding, bahwa teknologi sebagai racun maut di dalam ranah pendidikan keluarga.
Layar Televisi sangat Berpengaruh
Urie Bronfenbrenner, psikolog Amerika-Rusia yang mengembangkan teori ekologi dalam bukunya, The Ecology of Human Development (Harvard University Press,1979) berpendapat, bahwa lingkungan mikro: keluarga, sekolah, dan teman sebaya amatlah dominan serta penting dalam proses pembentukan karakter anak.
Beliau berpendapat, bahwa layar TV sudah sangat berpengaruh bagi lingkungan mikro anak. Bayangkan apa saja yang ditontonnya di sana. Hal itu akan sangat berpengaruh bagi perilaku anak.
Riil dan kita tahu, betapa orang sudah kecanduan menatap layar TV hingga memunculkan idiom-idiom kocak seperti, ‘couch potato’ (penghuni sofa), ‘tube junkie’ (kecanduan televisi), serta TV zombie (pasif akibat banyak menatap layar TV).
Perubahan seiring Perjalanan Waktu
Pada tahun 1990-2000 terjadi integrasi antara TV digital dengan gawai telepon pintar. Jika sebelumnya anak dan remaja hanya menonton apa yang disajikan industri TV, maka kemudian beralih dapat mengakses konten apa saja, demikian Ahmad Arif.
Realitas Kecanduan Layar
Kini waktu anak-anak lebih banyak dihabiskan di depan layar dibandingkan interaksi dengan orangtua atau teman-teman di dunia nyata.
Anak-anak Amerika Serikat menghabiskan 7-8 jam per hari di depan layar. Bertambah jadi 10 jam selama masa pandemi Covid-19. Laporan dari Common Sense Media (2021).
Bahkan para orangtua telah mengakali anak-anak agar mereka tidak diganggu dengan cara menghibur dan mengalihkan perhatian anak, termasuk anak balita, untuk boleh menggunakan layar gawai. Hal ini sudah terbukti sukses mengurangi interaksi anak dengan orangtua. Demikian Penelitian Pew Research Center (2022).
Dampak Psikologis
Sherry Turkle, profesor MIT dalam bukunya Alone Together (2011), sekalipun kita terhubung dengan orang lain secara global, teknologi layar digital juga menyebabkan kita merasa lebih kesepian dan terasing. Mengapa?
Karena salah satu yang membedakan manusia dengan spesies lain adalah manusia membesarkan anak-anak dalam konteks budaya yang kompleks. Mereka belajar tentang norma sosial, tradisi, dan nilai-nilai yang diwariskan melalui interaksi langsung dan proses mengalaminya.
Tapi nyatanya kita telah menciptakan generasi penerus yang terasing dengan dimensi terdalam dari kemanusiaan dan kebudayaannya sendiri. Demikian Ahmad Arif mengakhiri tulisannya.
Sungguh, dunia sejatiku tenyata bukanlah secarik layar!
…
Kediri, 6ย Septemberย 2024

