Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Menjelang kedatangan Sri Paus Fransiskus ke Indonesia, Sidhunata, Wartawan: Pemimpin Redaksi Majalah Basis, Yogyakarta menurunkan sebuah tulisan berjudul, “Surat untuk Paus,” Kompas, Selasa, 3/9/2024.
Seberkas Dukacita
Menitipkan seberkas dukacita yang harus ditanggung warga Indonesia. “Dukacita itu tertuang dalam surat-surat yang disampaikan kepada Paus Fransiskus dalam kunjungannya ke Indonesia kali ini,” demikian Sidhunata.
Setelah dihimpun ada 585 surat yang masuk. Berdasarkan isi dan sifatnya, maka surat-surat itu dapat dikategorikan sebagai surat-surat: yang menyentuh hati, mohon pengampunan, masalah sosial, dan rapuhnya kemanusiaan.
Dalam tulisan ini, saya memilih dua buah surat dari kategori surat yang menyentuh hati. Sebuah surat dari kategori mohon pengampunan dan rapuhnya manusia.
Menyentuh Hati
Saya membatasi diri dengan memilih dua buah surat yang sifatnya menyentuh hati.
- Surat dari seorang Ibu yang menyapa Sri Paus dengan kata Bapa.
Saya merasakan malam-malam yang gelap, nafas tercekak, dan sesak di dada.
Sang suami mengkhianatinya. Dia pergi tanpa pamit, tanpa membayar cicilan rumah, tidak membagi harta, serta menolak memberi nafkah.
Sang Ibu meninggalkan pekerjaan dan kembali ke kampung halaman sambil membiayai seorang putrinya. Dia sungguh merasakan pahitnya makna perkawinan itu. Dia sangat memohon agar Sri Paus menguatkan dia.
- Seorang Ibu yang lain lagi merasakan gagal dalam hidupnya. Malah Pastornya ikut salahkan dia.
Sebagai janda hidupnya terasa sangat berat. Mencari kerja sulit, karena status sebagai janda. Akhirnya ia diterima jadi pekerja bebas demi menafkahi anak-anaknya.
Mohon Pengampunan
- Berikut ini surat mohon pengampunan dari seorang gadis.
Di masa mudanya ia pernah menjadi putri altar. Ketika di SMA, ia mengalami krisis dan ditambah dengan merebaknya Covid-19.
Ia bolak-balik masuk rumah sakit. Kelak dia divonis terkena penyakit mental, karena perlakuan gurunya. Akhirnya ia goyah dengan menjauhi sesamanya, enggan ke Gereja, dan bahkan tidak percaya lagi kepada Tuhan.
Ia akhirnya berniat hendak membunuh diri. Niatnya itu sudah sangat bulat. Ketika ia benar-benar mau menggantung diri, ia melihat kucingnya sedang menatap dia, seolah hendak meminta makan. Ia pun berpikir, jika ia pergi, siapa yang akan memberi makan kucingnya?
Akhirnya ia pun mengurungkan niatnya itu. Ia sadar, betapa Tuhan berbelas kasihan kepadanya lewat kucingnya.
Rapuhnya Kemanusiaan
Akhirnya, Sindhunata menyimpulkan, bahwa sungguh, betapa rapuhnya manusia itu.
Persolalan mereka adalah persoalan bangsa ini. Persoalan serupa tentu juga dialami para warga lain. Disadarinya, bahwa selama ini yang mendapat sentuhan dan perhatian justru hanyalah persoalan makro.
Ternyata kondisi negeri ini tidak sedang baik-baik saja. Di balik itu, sungguh betapa rapuhnya sang manusia itu.
Konklusi
Ternyata persoalan kemanusiaan ini tudak kalah pentingnya dengan persoalan keberagaman, perdamaian, dan toleransi. Disimpulkannya, bahwa persoalan ini hanya bisa ditangani bila bangsa ini di hatinya mempunyai misericordia Dei, pengampunan dan bekas kasih Tuhan, seperti diteladankan Paus Fransiskus. Demikian Sidhunata mengakhiri tulisannya.
Vivere Militaire est.
…
Kediri, 5 September 2024

