“Konflik itu tidak bakal meletus, ketika kita mendengarkan suara hati dan menanggapinya dengan kasih.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Ketika mampu mendahulukan dan mengedepankan kasih, bahkan dalam sikon yang terburuk, berarti kita meminimalisasi, meniadakan, dan menjauhi konflik itu.
“Jauh panggang dari api, karena hati yang mengasihi.”
Seperti yang terjadi sore kemarin, ketika anak menuruni tangga depan Gereja sambil bermain hp, seperti yang dilakukan di rumah.
Saya meminta tolong pada anak untuk berhenti dan mengantungi hp itu. Karena mengganggu arus umat yang pulang, dan berbahaya, jika terpeleset.
Begitu pula saat di mobil. Sambil menyetir, anak bermain hp. Padahal saya sering mengingatkan. Karena disepelekan dan dibantah dengan banyak alasan untuk pembenaran diri. Saya meminta anak untuk tidak memakai mobil keluarga. Alasan saya, konsentrasi yang terpecah itu membahayakan diri sendiri dan orang lain!
“Tolong, Bapak turun di sini, jika kau terus main hp. Bapak naik gojek saja,” pinta saya, karena anak tidak mengindahkan kata-kata saya lagi.
Bertindak tegas, tapi terukur itu yang saya lakukan terhadap anak. Ketika diingatkan tetap membandel, saya mengajak anak bicara dari hati ke hati. Bisa jadi anak sedang mempunyai masalah di kantor, kampus, pacar, atau teman.
Dengan mengedepankan nurani agar tindakan saya terkontrol untuk belajar mengalah, memahami orang lain, sabar, dan rendah hati.
Seperti pengalaman pahit saya belum lama ini. Saya dimarah-marahi teman di depan umum, padahal tidak tahu masalahnya. Saya mendengarkan semua itu sambil tersenyum, dan tanpa emosi.
“Maaf, saya tidak tahu kejelasan dan sebab kau marah. Jikapun saya salah, alangkah bijak saya ditegur dan diingatkan di bawah empat mata,” pinta saya, setelah emosi teman itu mulai mereda.
Ternyata, teman itu marah-marah, karena terhasut oleh teman yang lain, dengan istilah ‘jarene’, asumsi, dan hoaks. Meski begitu, sekali lagi dari dasar nurani, saya meminta maaf.
Ternyata makin tua seseorang itu tidak jaminan jadi bijaksana. Rambut beruban itu tidak jaminan telah meninggalkan dunia hitam. Pertobatan itu tidak jaminan orang sungguh insyaf, jika tidak dihidupi dengan perbuatan baik dan dinafasi doa ikhlas.
Kisah anti klimak dengan teman itu adalah telepon saya diblokir.
“Gusti, nyuwun kawelasan.”
…
Mas Redjo

