“Prihatin itu tidak cukup, tapi yang utama dan penting adalah tindakan kita itu nyata.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | “Seandainya dapat memendekkan jarak dan waktu, saya ingin sekali ada dan hadir untuk teman yang membutuhkan peneguhan itu,” pikir saya terenyuh mengetahui kabar, bahwa A mulai sakit-sakitan. Usaha B bangkrut dan dililit hutang. Atau C yang disia-siakan oleh anaknya…
Bertemu teman, setelah puluhan tahun, baik lewat grup WA, FB, dan sosmed itu membahagiakan. Yang memprihatinkan, jika mengetahui keadaan teman yang sakit dan kurang beruntung itu. Sehingga hati ini jadi terenyuh.
Lewat grup WA, FB, dan sosmed itu memang mampu memperpendek jarak dan waktu, tapi tidak sedikit dari mereka yang hilang rasa peduli dan empati. Tepatnya menjauhkan dan memisahkan hubungan hati.
Bagaimana tidak. Seakan lewat gawai, ‘video call’, atau tanda ‘emoji’ itu mampu mewakili kita, ketika teman berduka, kesulitan, dan sebagainya. Padahal dengan ada dan hadirnya teman secara nyata itu menghibur, menguatkan, dan meneguhkan hati mereka.
Terpampang dengan jelas dalam ingatan saya, ketika seorang teman kirim WA mengajak ketemuan. Tapi, karena kesibukan kerja, saya tidak bisa menemuinya, kecuali telepon. Ternyata selang seminggu kemudian, teman itu berpulang. Ia ingin bertemu saya, karena hendak berpamitan. Duh! Itulah penyesalan terdalam, dan saya tidak ingin mengulangi lagi.
Kini, jika ada teman sedang sakit atau kesulitan, saya mencoba hadir untuk peduli dan berempati. Bersama dengan teman lain, saya ingin berbagi, karena kami ada dan hadir.
Saya juga mengajak teman itu untuk doa bersama, sekiranya ia berkenan dan mau. Doa bersama itu menghibur, menguatkan, dan meneguhkan hati. Sekaligus untuk mendekatkan kita dengan Tuhan Sang Pencipta. Karena doa yang dimohon dengan iman, rendah hati, dan tulus hati itu didengar-Nya (Yakobus 4: 8).
Sejatinya hadirnya gawai atau teknologi digital dengan aneka kemudahannya itu jangan sampai menjauhkan hubungan kita dengan teman, keluarga, dan apalagi dengan Tuhan. Kita jadi malas, diperbudak, dan mentuhankannya.
Saatnya kita harus piawai untuk manfaatkannya dengan baik guna pengembangan diri agar kita makin kreatif dan produktif dalam berkarya maupun berkarier.
Jadilah bijak berteknologi!
…
Mas Redjo

