Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sebuah surat terbuka dari Aku, si Kuncup buat Mamiku tersayang.”
(Didaktika Hidup Kasih)
…
Sebuah Fakta Perih
Ketika dunia ini kian frustrasi dan muak menghadapi sebuah realitas paling konyol, berupa sebuah kepahitan hidup menghadapi kenyataan paling keji, “aborsi.”
Surat dari si Kuncup
Mami tersayang,
Mami pasti terkejut menerima surat ini. Berita besar yang harus saya sampaikan kepada Mami ialah, bahwa saya tercipta, saya ada, saya hadir di sini, saya milikmu.
Saya teramat dekat dengan jantungmu; jantungku berdenyut, karena bersatu dengan jantungmu.
Saya baru berusia delapan minggu. Saya tak lebih besar dari ibu jari tangan Mami, tetapi saya utuh, saya yang adalah diriku sendiri.
Saya ada di sini, dalam gelap, dekat jantungmu. Saya merasakan kehadiran Mami, tapi tidak dapat melihatmu.
Saya tercipta, tetapi belum mempunyai nama. Saya tidak tahu nama apa yang akan diberikan kepadaku. Untuk sementara biarlah saya menamakan diriku “si Kuncup.”
Tidak seorang pun di bumi ini tahu akan kehadiranku. Mami, kaulah orang pertama yang menerima berita ini. Betapa indahnya, bukan?
Inilah saya, saya mencintaimu!
Si Kuncup
(Surat-surat dari dan Kepada si Kuncup)
Letters from Junior and Letters to Junior.
Josef Giaime, S.D.B.
Tulisan ini saya turunkan ke atas helai dedaunan kertas-kertas kehidupan ini atas nama sebuah hati yang terguncang, tersiksa menerima dan menghadapi realitas amoral ini.
Bahwa dunia ini, kini ternyata sangat bengis, sebengis Raja Herodes yang dengan kuasa jahatnya leluasa dan tega mengakhiri nyawa para kuncup belia tidak berdosa.
Kini peristiwa paling sadis itu terus terulang, baik di desa, kota, dan di mana-mana dalam lembaran sejarah berdarah yang paling getir, pembunuhan sadis, aborsi.
Keluhan ratapan sunyi ini, mewakili isi hatiku sebagai insan selaku saksi hidup dalam sejarah hidup paling getir ini.
Inilah model hidup tanpa esensi dan eksistensi nafas serta tiupan roh cinta sejati. Tapi, hanya sebagai buah busuk dari model cinta liar. Sebuah aktus keji atas nama kebrutalan dan nafsu bejat semata.
Marilah sekali lagi kita mencermati dengan saksama, apa isi ratapan dan keluhan dari si Kuncup itu.
Bersyukurlah, karena kita sudah diselamatkan sejak dari dalam relungan rahim Mami kita!
…
Kediri, 30 Agustus 2024

