“Hidup ini pilihan, tapi kita tidak bisa menolak panggilan-Nya. Kecuali untuk menjawab dengan takzim, “Berbicaralah, Tuhan, hamba-Mu mendengar.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Mendengarkan suara hati itu tidak mudah, tapi berproses. Dibutuhkan kepekaan, dan ikhlas membuka hati. Tapi, jika tidak hati-hati, kita dapat terperangkap rayuan si jahat yang pandai berkamuflase.
Faktor yang utama dan terpenting adalah, sebagai umat beriman, kita dituntut untuk selalu berjaga-jaga dari godaan si jahat. Kita dituntut peka untuk menanggapi panggilan Tuhan, dan melaksanakannya.
Coba kita telaah kisah Yeremia, ketika dipanggil dan dipilih Tuhan (Yeremia 1: 4-10). Ia takut dan gentar membayangkan musuh-musuhnya bakal memeranginya. Tapi Tuhan meneguhkan hatinya agar tidak takut.
Begitu pula dengan kisah Samuel. Saat tidur, ia dipanggil hingga 3 kali (1 Samuel 3: 9) oleh Tuhan, tapi ia pergi menemui Imam Eli. Oleh Eli, ia disarankan untuk mendengarkan Tuhan untuk yang keempat kalinya. “Berbicaralah, Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar.”
Bagaimana dengan kita? Apa kita peka mendengarkan panggilan-Nya?
Untuk melihat dan mendengarkan panggilan Tuhan itu tidak harus lewat mukjizat dahsyat dan wow. Tapi dapat melalui hal-hal kecil dan sederhana. Karena yang utama itu kesiapsediaan kita untuk membuka hati menyambut kehadiran Tuhan.
Caranya adalah dengan membaca firman-Nya dan melaksanakannya. Kita mengikuti misa Ekaristi Kudus, berkontemplasi, mendengarkan renungan atau lagu pujian, dan banyak lagi.
Coba dilihat pula keadaan di sekitar kita. Apakah kita peka dan peduli terhadap mereka yang KLMTD (kaum lemah, miskin, tersingkir, dan difabel) dan membantu kebutuhan dasarnya?
“Setiap kali kamu mengambil kesempatan untuk melakukan hal-hal itu kepada salah seorang dari saudara-saudari-Ku ini, bahkan kepada orang yang paling hina itu, kamu melakukannya bagi-Ku.” (Matius 25: 40).
…
Mas Redjo

