Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Adalah kodrat kalajengking untuk menyengat. Kodrat saya adalah untuk mengasihi.”
(Berhenti Sejenak Bersama Tuhan 1)
Rm. Jeffry Orbos, SVD
Pernahkah Anda disengat oleh seekor kalajengking? Bagaimana rasanya?
Kisah Seekor Kalajengking dan Seorang Umat Hindu
Ada seorang umat Hindu yang melihat seekor kalajengking berputar-putar di atas air. Ia memutuskan untuk menyelamatkan kalajengking itu. Lalu ia mengulurkan jemarinya. Tapi malang, kalajengking itu malah menyengatnya.
Namun orang itu tetap berusaha untuk menyelamatkan binatang malang itu agar segera ke luar dari air. Tapi untuk kedua kalinya ia malah kembali disengat.
Seseorang yang melihat hal itu memberinya saran agar dia tidak lagi berusaha untuk menyelamatkan kalajengking itu.
Apa jawaban si umat Hindu itu? “Adalah kodrat kalajengking untuk menyengat. Kodrat saya adalah untuk mengasihi.”
“Mengapa saya harus meninggalkan kodrat saya untuk mengasihi, hanya karena kalajengking yang suka menyengat?”
Tantangan Riil bagi Kita
“Jangan Tinggalkan Kodrat Kita.”
Inilah sebuah tantangan riil bagi kita. Karena sudah sangat sering kita melupakan kodrat asali kita.
Biasanya dengan seribu satu argumen normatif kita menghujani pihak yang menantang itu agar tidak melupakan kodrat sejati kita.
Biasanya kita akan menyodorkan aneka alasan rasional, yang mau membenarkan sikap dan tindakan kita yang telah melupakan kodrat itu.
“Maaf saudara, tadi itu saya kewalahan, maka saya berpura-pura untuk menghindar!”
“Ah, itu bukan urusan saya. Urusan saya hanya ini, titik!”
“Ah, saya ini bukan Tuhan yang mampu berbuat baik!”
“Diri sendiri saja tidak sanggup saya hidupi, malah disuruh membantu orang lain!”
“Ah , sungguh bodoh kamu, mengapa mau menolong si bejat itu?”
Sejatinya, jawaban telak dan arif dari seorang penganut Hindu itu, seolah-olah membuyarkan seluruh tindakan rasional kita demi pembenaran diri.
“Adalah kodrat kalajengking untuk menyengat. Kodrat saya adalah untuk mengasihi.” Inilah sebuah argumen paling jitu.
Lewat refleksi ini kita diajak agar jangan pernah menyerah untuk mengasihi. Jangan mogok untuk berbuat baik.
Kini, saya teringat dengan sebuah jawaban telak dari seorang arif atas pertanyaan seorang pemuda.
“Tuan yang arif, apa yang harus aku lakukan, agar hidupku lebih berguna bagi orang lain?”
“Memberi. Sekali lagi, memberi!”
…
Kediri,ย 27ย Agustusย 2024

