Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Syahwat kuasa di negeri kita kini tidak bisa lagi disembunyikan.
Tak kuasa lagi disarukan.
Secara kasat mata dipertontonkan, lalu dipakai untuk mengintimidasi dan menindih.
Akal waras pun harus dikubur.”
(Hamid Awaludin)
…
Bertelinga, namun Enggan Mendengar
Sudah dikenal dan diketahui secara umum, bahwa manusia adalah ciptaan yang bertelinga, namun justru paling sulit untuk mendengarkan.
Fenomena spektakuler ini justru telah dan kian merambah ke seluruh wajah bumi ini. Betapa sulitnya manusia mau mendengarkan orang lain.
Ketika Penguasa Enggan Mendengar
Itulah judul sebuah tulisan oleh Tim harian Kompas, Jumat, (23/8/2024).
Ternyata roh pembangkangan warga sipil terhadap pemerintah dan parlemen terkait kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat sudah muncul, lebih dari seabad silam. Banyak kalangan menyebut gerakan pembangkangan sipil dikenal, ketika Henry David Thoreau, penulis esai, penyair, dan filsuf Amerika Serikat, pada 1840-an mengutarakan gagasannya menolak membayar pajak dalam sebuah forum, sebagai bagian dari “Pergerakan Lyceum.” Demikian Tim Kompas.
Selanjutnya Tim Kompas menuliskan: Pada dasarnya,
pembangkangan sipil adalah sebuah gerakan massa yang bertujuan untuk mendorong terjadinya perubahan dari warga sipil melalui gerakan ekstra parlementer.
Gerakan ini terjadi, ketika sistem hukum dan kenegaraan dinilai sudah tidak berfungsi lagi. Gerakan pembangkangan sipil cukup banyak terjadi dalam rentang seabad terakhir, termasuk gerakan pembangkangan sipil yang dilakukan oleh tokoh dunia dari India, Mahatma Gandhi, melalui gerakan salt-march dan salt-satyagraha.
Syahwat Kuasa Mengubur Nurani
Demikian judul opini karya Hamid Awaludin, mantan Menteri Hukum dan HAM RI dalam kolom Opini harian Kompas, Jumat, (23/8/2024).
Semua dilakukan dengan metode bangkrut akhlak dan defisit moral. Untuk meladeni syahwat kuasa tersebut, segala aturan main yang berfungsi sebagai jangkar keadaban bangsa serta-merta mutlak dijungkurbalikan, demikian Hamid Awaludin.
Degradasi Moral Bangsa
Selanjutnya arah dan fokus dari tulisan ini akan bermuara pada aspek “refleksi isi serta kualitas nurani moral” anak bangsa ini.
Sejatinya ‘siapakah kita ini,’ sampai berani untuk bertindak dan bersikap sungguh arogan, brutal, nanar, liar, dan rakus?
Dari manakah datangnya virus godaan yang sangat mematikan ini, sehingga para penguasa dan pengambil kebijakan bangsa ini berani serta tega mengangkangi roh kesejatian dari hukum di negeri ini?
Maka, sungguh tepat judul opini mantan Menkum Ham RI, Hamid Awaludin, “Syahwat Kuasa Mengubur Nurani.”
Kuasa, ya, atas nama sebuah kuasa, maka manusia penguasa rela untuk bersikap laksana seekor bajing alias ‘bajingan.’
Konklusi Sinis
Di Amerika, Presiden Nixon terhempas. Kasus ini dikenal dengan nama “All President’s men.” Siapa tahu, di negeri kita ini, bisa jadi ada orang yang berkata, “All the President’s wishes.” Mana tahaaan?!! Demikian Hamid Awaludin mengakhiri opininya.
Oh sang kerakusan, di manakah taring culasmu?
Inilah buah ranum dari sikap enggan mendengar!
…
Kediri, 26 Agustus 2024

