| Red-Joss.com | Ketika saya kesulitan, bahkan gagal untuk menuangkan ide tulisan, saya biasa memilih istirahat sejenak dan rilek. Ngobrol dengan anak buah atau melayani pelanggan yang belanja di toko, sambil mencari ide dan membangun mood. Lalu meneruskan menulis kembali.
Ternyata untuk kesekian kalinya saya gagal. Bahkan pikiran serasa buntu dan suntuk. Padahal kerjaan saya di toko telah diambil alih anak-anak. Saya lalu membaca KS, renungan atau mendengarkan musik rohani agar pikiran jadi jernih. Bahkan bagi saya, KS itu sumber inspirasi yang tidak pernah kering.
Karena macet dan macet lagi, saya jadi penasaran. Sebab saya tidak sedang mempunyai masalah atau konflik dengan keluarga, pelanggan, dan tetangga. Lalu?
Saya menarik nafas panjang sambil menelusuri sebab kegagalan itu. Baru kali ini mengalami kebuntuan yang amat sangat. Karena saya selalu mendisiplinkan kebiasaan menulis setiap hari dengan mewujudkan target seperti yang saya lakukan dalam bisnis.
“Jangan dipaksain, Be. Atau Babe ntar malam mau ke SMS ajak Om RP…,” saran anak sulung saya. Tapi tidak saya tanggapi.
Bisa jadi, lama saya tidak refreshing atau healing? Tidak juga. Karena di rumah saya memelihara kura-kura, ikan, burung, dan doggy yang senang diajak main. Hewan piaraan itu sebagai hiburan, dan membahagiakan!
Selain itu dengan mendisiplinkan kebiasaan menulis dan demi target, saya belajar mengelola waktu dengan baik agar tidak menunda-nunda pekerjaan.
Saya juga tidak mau berhutang pekerjaan, meski sekadar menulis sebuah artikel, renungan singkat, atau cerpen. Bagi saya menumpuk pekerjaan itu beban berat. Saya takut, jika banyak hutang, dan tidak mampu melunasi atau membayar, jika tiba-tiba dipanggil oleh-Nya untuk pulang. Lalu…?
Tiba-tiba mencuat peristiwa pagi tadi, ketika anak bontot saya, OT hendak berangkat kerja.
“Udah kerja lagi, Le…”
“Iya, ketimbang ngganggur, Be.”
“Ngomongmu, ndak bener, OT. Seharusnya kau bersyukur,” tegur saya mengingatkan. Karena dengan mudah bersyukur, kita tidak tawar hati (2 Korintus 4: 16-18). Kita adalah saluran berkat Tuhan.
“Maaf, Be,” kata OT.
Saya mendehem. Kini OT bekerja di bagian IT, perusahaan yang cukup bonafide di Kuningan, meski gajinya lebih rendah dari perusahaan lama. Ia pindah, karena pimpinannya diganti dan orang-orang lama itu dimutasi ke bagian lain atau ke kantor cabang.
Ya, saya juga harus bersyukur pada Tuhan. Karena diberi kesempatan untuk menuliskan pengalaman ini. Semoga bermanfaat!
…
Mas Redjo

